MADRASAH ALIYAH AN-NIDA AL-ISLAMY RB

                              MENGAJAR DI MA AN-NIDAA AL-ISLAMY RB

Awal mula

Pada awal tahun 2005, Aku menyampaikan proposal kerja sama untuk pembelajaran bahasa Inggris di Madrasah Yapri Rawabugel Bekasi, setelah dipelajari oleh ketua yayasan Bpk Mutawakkil Alallah, ternyata kejadiannya malah aku ditawari mengajar Bhs Ingris di Madrasah Aliyah , karena gurunya pindah ke sekolah yang lebih bagus. Mengajar di sini honornya kecil, namun demikian aku mau menjadi guru di sini karena ingin mencoba mengajar di sekolah lagi, padahal sebelumnya aku pernah mengajar di Sekolah Pakistan Internasional dengan gajih 400 dolar. Sementara ini aku hanya mengajar hari Senin untuk kelas X, XI dan XII yang masing masing hanya dua jam pelajaran. Seharusnya menurut kurikulum harus 4 jam setiap kelas, tapi Yayasan punya kebijakan lain yaitu diganti dengan mulok sebagai ciri khas sekolah ini, seperti: arudh, nahwu shorof atau kitab kuning.

Baru sebulan aku mengajar di sini sudah disuruh berangkat ke Bandung mengikuti pelatihan guru bhs. Inggris se-Jawa Barat. Surat undangannya terlambat, pelatihan 3 hari tinggal satu hari, namun demikian setelah dikonfermasi , diharapkan ada utusan dari sekolahku, Sore itu aku pun berangkat ke Bandung. Sekolah memberiku transport yang lumayan. Aku pernah sekali pergi ke Bandung sudah lama sekali sekitar th 1986, berarti 19 tahun yang lalu. Sekarang sudah ada jalan toll, hanya beberapa jam bus Primajasa yang saya tumpangi sampai di terminal Bandung. Setelah jajan nasi di warung terminal aku langsung mencari taksi yang tahu alamat Wisma Kartini. Seminar tinggal malam ini dan besok pagi sudah penutupan. Yah lumayan bisa tahu Bandung, berkenalan dengan guru-guru bhs Inggris  MA se jawa Barat. Materi seminar adalah sosialisasi kurikulum 2004 KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Sebelum penutupan ada pembagian uang transport, besarnya transport tergantung pada jarak peserta dari kota Bandung. Aku mendapat jumlah uang yang lumayan karena Bekasi termasuk jarak jauh. Sebelum pulang aku tidak lupa membeli oleh-oleh dari Bandung. Aku beli kaos di halaman luar seminar untuk semua keluargaku, aku beli oncom dan kuwe khas Bandung lainnya. Inilah salah satu suka cita menjadi guru, dapat ilmu, dapat pengalaman, dapat uang pula.

Melaksanakan umroh

Selain mengajar di MA, hari-hariku kugunakan mengembangkan bisnis MLM CNI, dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas akhirnya aku pun mendapatkan komisi religi umroh ke baitullah, sebetulnya yang lebih berhak menerima hadiah ini adalah istri saya, namun dia mempersilahkan saya yang berangkat umroh. Inilah saatnya Rusmanhaji akan menjadi Hajirusman. Aku baru mengajar di sini kira-kira tiga bulan tapi harus ijin selama 2 pekan untuk melaksanakan umroh. CNI mentransfer uang sebanyak rp 18 juta, 2 jt untuk bayar kontrakan yang akan habis, satu juta untuk persediaan di rumah dan 15 jt untuk keperluan umroh sampai tuntas. Di Baitullah aku sebut nama-nama saudaraku yang berjumlah 11 orang, aku doakan agar yang belum haji bisa melaksanakannya di kemudian hari. Teman-teman guru juga kudoakan, bahkan murid-muridku aku baca absennya di masjidil haram agar diberi kemudahan dalam belajar. Di kain kakbah inilah aku menangis, memohon ampunan-Nya, aku merasa mempunyai dosa yang luar biasa banyaknya, baik dosa kecil maupun yang besar. Doa yang paling banyak aku mohonkan kepada Allah adalah doa sapu jagad, terutama saat thowaf. Di tempat-tempat mustajab aku berdoa mudah-mudahan nasibku bisa berubah menjadi baik sepulang dari baitullah nanti. Aku belum mampan berkarir padahal umurku sudah 45 tahun. Aku belum punya rumah pribadi, masih mengontrak. Aku hampir pulang kampung, entah ke Demak kampung halamanku atau ke Madiun kampung istriku. Ya Allah berilah aku masa depan yang lebih baik.

Perjalanan Umroh ke Baitullah.

Sekilas perjalanan umroh, dari rumah aku diantar oleh temanku yang menjadi supir taxi Bluebird, sdr Nasoka  sampai Bandara Soekarno Hatta, dari sini menuju Brunai Darussalam naik Royal Brunai, transit menuju Jedah naik Brunai Air Bus yang muat sekitar 400 penumpang. Dari bandara King Abdul Aziz kami mulai memakai pakaian ihram menuju Mekah menuju hotel yang jaraknya hanya sekitar 200 meter ke masjidil haram, setelah towaf berkeliling ka’bah tujuh kali, kemudian melakukan sa’i, setelah itu lalu istirahat di hotel. Jadwalnya penuh, aku towaf dan sa’i sekitar 4 kali, minum air zamzam sepuasnya, selalu menjalankan shalat jamaah di masjidil haram, hanya sekali yang aku sholat di hotel karena tertidur. Di sini hanya memikirkan akhirat, urusan keduniaan tidak terpikirkan, aku ketemu dengan orang dari berbagai Negara, praktek bahasa Arab, Inggris, Urdu, dan Persia.

Perjalanan dilanjutkan ke Madinatul Munawwaroh. Di sini aku ketemu dengan para mahasiswa dari Indonesia, terutama Abdullah Zein yang sedang belajar S2. Sekitar 25 tahun yang lalu dia baru berumur sekitar 2 tahun dan sering aku gendong, karena dia adalah putra kyai Zaeni Muhajjat BA di PPPI Banyumas, dan aku adalah asisten bapak kyai di th 1984 an. Meskipun puluhan tahun tidak bertemu aku masih kenal wajahnya.

Selama perjalanan umroh, kami diajak keliling Mekah dan Madinah, tempat-tempat bersejarah seperti gua hiro, padang arafah, mina, jabal rahmah, jannatul baqik, pasar seng dll. Akhirnya rombongan kami yang berjumlah 14 orang pulang menuju Indonesia dengan pesawat yang sama, pesawat ini adalah kelas ekonomi, maka banyak sekali di dalamnya penumpang TKI dan TKW.

Membuat rumah.

Doaku terkabul, setelah pulang dari Umroh aku diterima mengajar di MTs At-Taqwa 02 Bungur Bekasi, dan tak lama kemudian diterima di SMP Driwanti Pekayon, serta jika hari minggu aku mengajar di STAISA Al-Husnayain Harapan Baru Bekasi. Kontrakan di Pesona Anggrek belum habis, akan disegel Bank karena yang empunya rumah sudah 6 bulan tidak mencicil, maka aku pun nekad membuat rumah kecil-kecilan, sebetulnya yang ngotot adalah istri saya, katanya lebih baik memempati rumah sendiri meskipun kecil dari pada di rumah besar tapi ngontrak. Saya yakin ini adalah termasuk doa yang diijabah saat di baitullah. Dalam waktu hanya satu setengah bulan rumah sudah jadi dengan ukuran 7×7. Rumah ini berlokasi di belakang rumah Pak Haji Syamsuddin. Aku beli tanahnya dengan harga 170 rb per meter. Dengan bantuan dari teman-teman dan juga ibuku di kampung, akhirnya rumah pun jadi meskipun bahan-bahannya tidak baru, seperti kusen dari bekas sekolah YAPRI, genteng Cuma-Cuma dari temanku Bpk Nur Amin Fattah, kayu hampir semuanya dari bongkaran mesjid di Alinda kencana. Al-hamdulillah rumah ini sekarang semakin luas hingga 100 meter. Ini semua adalah berkah mengajar di madrasah yapri.

Berkah madrasah     

Sampai saat ini aku masih mengajar di MA An-Nida Al-Islamy Rawa Bugel Bekali. Meskipun honorku kecil aku tetap bertahan untuk mengajar di sini. Aku hanya mengajar hari Senin saja, yaitu kelas 1, 2 dan 3 Aliyah yang masing-masing hanya 2 jam pelajaran per minggu. Sebetulnya untuk mata pelajaran bhs Inggris menurut kurikulum harus 4 jam, namun karena kebijakan sekolah yang ingin memasukkan pelajaran agama mulok  sebagai ciri khas sekolah maka menjadi 2 jam, tapi mulai th pelajaran 2011 ini alhamdulilla menjadi 3 jam pelajaran. Tak apalah daripada tidak diajar bhs. Inggris, yang penting mereka bisa lulus dalam menghadapi Ujian Nasional, yang mana biasanya bantuan guru sangat dibutuhkan siswa. Inilah system yang sudah membudaya di Indonesia, sebagai guru saya seperti makan buah simalakama. Jika tidak ditolong tak seorang pun bisa lulus, jika ditolong kita tidak mendidik dengan baik. Itulah kenyataan yang harus kita pecahkan bersama oleh semua pihak, baik guru, wali murid, dan pemerintah. Oleh sebab itulah pemerintah mengadakan peningkatan bagi guru dengan sertifikasi guru, supaya bisa mengajar secara professional sehingga murid-muridnya menjadi pintar bisa mengerjakan UN secara mandiri.

            Sebetulnya lumayan juga mengajar di sini, bisa dikenal masyarakat sebagai guru YAPRI, sekolah ini satu-satunya sekolah yang gratis untuk MI dan MTsnya. Guru-guru mendapat fungsional dan Honda yang lumayan jumlahnya. Siswa Aliyah mayoritas anaknya orang pas-pasan, murid perempuan biasanya hanya sekolah untuk menunggu nikah, setelah tamat biasanya menikah , jarang sekali yang melanjutkan studi. Yang laki juga jarang yang melanjutkan kuliah, rata-rata mereka cari kerja. Meskipun hanya mengajar sehari di sini tetap saya pertahankan karena mengajar di sini banyak yang membawa berkah.

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s