IBNU SINA

IBNU SINA 1

 

ANGGOTA KELUARGA

Nama lengkapnya Abu Ali Husain bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Sina. Di kalangan masyarakat Barat, ia dikenal dengan nama “Avicienna”. Selain sebagai ahli kedokteran, Ibnu Sina juga dikenal sebagai seorang filosof (ahli filsafat), psikolog (ahli ilmu jiwa), pujangga, pendidik, dan sarjana muslim yang hebat.

            Ayahnya berasal dari Balkh, salah satu dari empat kota besar di Khusaran yang pernah ditaklukkan panglima Islam Al-ahnaf bin Qais bersama pasukannya pada zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab r.a.

            Karena alasan tugas, ayah Ibnu Sina pindah dari Balkh ke Bukhara, sebuah kota penting yang menjadi pusat ibu kota dinasti Samman. Pada zaman Khalifah Nuh bin Manshur As-Samman, Bukhara penuh dengan ulama, baik penduduk setempat maupun pendatang dari kota lain.

            Ayahnda Ibnu Sina bekerja sebagai pegawai pemerintahan di karmaytsan, sebuah desa yang terletak di dekat Bukhara. Di desa inilah, Ibnu Sina dan adiknya, Mahmud, lahir.

            Ibunda Ibnu Sina bernama Sitarah, berasal dari Afsyanah, sebuah desa yang juga tidak jauh dari Bukhara. Ibnu Sina sendiri lahir pada bulan Shafar 370 Hijriah atau Agustus 985 Masehi. Sedang adiknya, Mahmud, lima tahun lebih muda darinya.

 

PENDIDIKAN

Ibnu Sina lahir di tengah keluarga yang memiliki kesibukan mengabdi pada Negara. Di samping sebagai pegawai pemerintahan, ayah Ibnu Sina adalah seorang tokoh pendidik yang cukup terkenal. Ia memiliki banyak murid, terdiri dari para ulama dan filosof (ahli filsafat). Mereka datang kerumah ayah Ibnu Sina untuk belajar memperdalam berbagai ilmu, terutama ilmu mantiq (logika) dan filsafat. Mereka juga sering tukar pikiran mengenai ilmu tersebut. Meskipun  masih kanak-kanak, Ibnu Sina seing ikut mendengarkan dan mengikuti pembicaraan mereka.

            Ayah dan paman Ibnu sina termasuk anggota Ismailiah, salah satu golongan Syi’ah. Kelompok ini memiliki banyak pengikut. Tetapi, semua kegiatannya lalu dihentikan Amir Sa’id II dan puteranya Amir Hamid Nuh pada tahun 302 Hijriah. Kelompok Ismailiah memang sangat gemar membicarakan mantiq dan filsafat. Ibnu Sina sendiri tidak bisa menerima ajaran-ajaran kelompok ini, sekalipun para pingikutnya berusaha keras menariknya.

            Oleh sang ayah, pada mulanya, diajari Al-Quran dan sastra. Namun, karena kesibukannya yang menumpuk, ayah Ibnu Sina ridak sempat mengajar sendiri. Seorang guru pun sengaja didatangkan khusus untuk mengajarkan Al-Quran dan sastra kepada Ibnu Sina. Karena Ibnu Sina memang cerdas, dalam usia 10 tahun, ia berhasil menamatkan Al-Quran dan mendalami berbagai karya sastra.

            Ibnu Sina belajar filsafat dari Abu Abdillah An-Natili, seorang kenamaan yang kebetulan berkunjung ke Bukhara. Ia diminta ayah Ibnu Sina tinggal di rumah kediamannya untuk mengajarkan filsafat pada anaknya. Dalam waktu yang singkat Ibnu Sina berhasil menguasai filsafat, senhingga membuat kagum gurunya.

            Tetapi, sebelum itu, Ibnu Sina sudah tekun mempelajari ilmu fiqih dari seorang ulama besar bernama Islmail yang tinggal diluar kota Bukhara. Dengan semangatnya yang tinggi, Ibnu Sina tidak keberatan harus bolak balik ke rumah gurunya.

            Kecerdasan Ibnu sina tampak semakin terlihat saat usianya 16 tahun. Ia sudah sanggup membacakan dengan baik untuk gurunya buku Isagoge (ilmu logika), buku al-Meges (ilmu astronomi kuno) dan buku Ecludis (ilmu arsitektur).

            Ia memang benar-benar murid yang cerdas. Di depan guru-gurunya, ia dapat menerangkan rumus-rumus dan berbagai kesulitan yang terdapat dalam buku-buku tersebut. Bahkan , konon, ia sudah sanggup menciptakan alat yang belum pernah dibuat para ahli sebelumya.

            Setelah berhasil mendalami ilmu-ilmu alam dan ketuhanan, Ibnu Sina pun tertarik untuk mempelajari ilmu kedokteran, sehingga dalam waktu yang singkat ia meraih hasil yang luar biasa. Berkat ketekunan dan semangatnya yang tinggi dalam mempelajari ilmu tersebut, Ibnu Sina sanggup mengobati orang-orang yang sakit.

            Semakin lama nama Ibnu Sina semakin  terkenal, tidak hanya di sekitar Bukhara melainkan juga di berbagai pelosok wilayah. Orang-orang yang tertarik pada bidang kedokteran, mulai mendatangi Ibnu Sina untuk menimba ilmu darinya. Mereka juga mengadakan percobaan-percobaan (eksperimen) mengenai berbagai cara pengobatan di bawah pengawasan dan bimbingan Ibnu Sina.

            Tetapi, Ibnu Sina tidak ingin menjadikan ilmunya itu sebagai alat untuk mencari kekayaan duniawi. Ia mau mengajar dan menolong orang-orang sakit ikhlas karena Allah dan terdorong rasa kemanusiaannya. Ia merasa yakin bahwa dilakukannya ini akan mendapat pahala di sisi Allah di akhirat kelak.

            Konon, suatu hari, Amir Nuh bin Nasr menderita sakit keras. Mendengar kehebatan Ibnu Sina, ia diminta datang untuk mengobatinya. Setelah diobati, ia pun sembuh. Bukan main gembira hatinya. Dan semenjak itulah Ibnu Sina menjadi akrab dengan sang Amir, pemilik sebuah perpustakaan yang sangat lengkap. Ibnu Sina memanfaatkan perpustakaan itu untuk membaca buku-buku kuno dalam berbagai bidang ilmu. Dari perpustakaan sang Amir Nuh bin Nasr ini Ibnu Sina berhasil mendapatkan banyak ilmu pengetahuan untuk behan-bahan penemuan. Dan, ketika berusia 18 tahun, Ibnu Sina sudah menguasai berbagai bidang ilmu.

TINGKAH LAKU

Sebagai manusia biasa yang memiliki nafsu dan akal budi, Ibnu Sina memiliki sejumlah kebiasaan baik dan kebiasaan kurang baik yang bukan merupakan aib atau peruatan durhaka.

            Salah satu kebiasaan baik Ibnu Sina yang cukup menonjol ialah setiap kali mengahadapi kesulitan masalah ilmu, ia segera ambil wudhu dan pergi ke masjid. Di rumah Allah inilah ia menunaikan shalat sunnat beberapa rakaat, kemudian dilanjutkan berdoa memohon kepada Allah SWT agar pikirannya dibukakan, sehingga dapat memahami kesulitan-kesulitan yang tengah ia hadapi.

            Malam hari, biasanya, Ibnu Sina baru beranjak keluar dari masjid. Setibanya di rumah, ia langsung mengambil lampu dan terus sibuk membaca serta menulis. jika sedang terserang rasa kantuk berat, biasanya, Ibnu Sina meminum secangkir anggur agar badannya terasa segar. Setelah itu ia kembali membaca dan menulis.dan ketika ia sedang tidur, biasanya, Ia memimpikan masala-masalah yang ia pelajari, sehingga banyak masalah yang berhasil terpecahkan dalam tidurnya.

            Ibnu Sina adalah orang yang dermawan. Konon, setiap kali berhasil mendapatkan pengetahuan yang baru, ia segera mengeluarkan sebagian hartanya untuk disedekahkan pada fakir miskin sebagai rasa syukurnya kepada Allah. Dan masih banyak lagi kebiasan-kebiasaan baik Ibnu Sina yang patut diteladani.

            Adapun salah satu kebiasaan kurang baik Ibnu Sina terutama masalah kesehatan, ialah meminum minuman yang dicampur-campur dan menyuntik dirinya sendiri secara berlebihan. Di samping itu, Ibnu Sina juga suka begadang, bahkan sampai beberapa malam untuk membaca, menulis, dan melakukan penelitian-penelitian. Itulah yang membuat kesehatan tubuhnya sering melemah dan akhirnya meninggal dunia. Ketika hal itu ditanyakan, Ibnu Sina menjawab, “Allah Yang Maha Agung sangat murah hati, dengan memberiku kekuatan lahir batin. Maka aku gunakan kekuatan itu sebagai mana mestinya.”

 

PERJALANAN HIDUPNYA

Ketika berusia 22 tahun, ayahnya meninggal dunia. Terpaksa ia mengambil alih tugas-tugas ayahnya. Namun, itu tidak berlangsung lama. Saat timbul goncangan dalam pemerintahan dinasti Saman, Ibnu Sina terpaksa harus meninggalkan Bukhara. Mula-mula ia pindah ke Gurganj, ibu kota Kazram. Di kota inilah ia tInggal selama 10 tahun dan bertemu serta berkenalan dengan Abu Husain as-Suhaili, seorang menteri yang menyukai para ulama. Atas jasa Husain inilah Ibnu Sina dengan penguasa setempat, Amir Ali bin Ma’mun memberinya gaji bulanan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

            Belum lama Ibnu Sina menikmati kebaikan tersebut, ia dipaksa Amir Mahmud  Ghazna pergi meninggalkan Gurganj dengan alasan yang tidak jelas. Ibnu Sina pindah ke Nasa’, sebelah selatan Gurganj. Dari sana ia pindah ke Baward, pindah lagi ke Thus, lalu pindah lagi ke Samalqan. Dari Samalqan, Ibnu Sina pindah ke sajarm, ujung perbatasan Khurasan, kemudian pindah lagi ke Surjan   untuk menemui Amir Qabus, penguasa surjan yang sudah dikenalnya dengan baik. Untuk sementara, Ibnu Sina merasa tenang. Tetapi, ketenangan itu tidak berlangsung lama, menyusul terjadinya peristiwa perebutan kekuasaan. Amir Qabus berhasil ditangkap lawan-lawan politiknya. Setelah dipenjarakan dalam sebuah benteng tua akhirnya Amir Qabus meninggal dunia di sana.

            Dengan menyimpan rasa sedih, Ibnu Sina pindah ke Dihitsan, sebelah utara Jurjan. Di sana, ia menderita sakit keras. Setelah sembuh, ia kembali lagi ke Jurjan, kemudian pindah lagi ke Hamadzan, sebuah kota pegunungan yang masuk dalam wilayah Parsi.

            Di kota Hamadzan ini, Ibnu Sina disambut hangat oleh Amir Abu Thahir. Bahkan, ia diberi jabatan penting dalam pemerintahannya. Tetapi, rupanya, banyak pejabat lain yang tidak menyukai Ibnu Sina. Mereka mendesak Amir Abu Thahir untuk memecat. Demi alasan keamanan dan keutuhan pemerintahan, Abu Thahir mau memenuhi desakan mereka. Ibnu sina menghabiskan sisa sisa hidupnya di Hamadzan.

            Dalam pengembaraannya dari satu kota ke kota lain yang cukup lama dan melelahkan itu, Ibnu Sina ditemani seorang muridnya, Abu Ubaid Abdul Wahid bin Muhammad al Juzjaini atau Abu Ubaid Juzyani. Dialah murid setia yang menulis riwayat hidup Ibnu Sina ketika gurunya telah meninggal dunia. Untuk mendiang gurunya, ia pernah menulis beberapa bait syair berikut ini:

Sungguh malang nasibmu, guru

Ketika kamu menjadi besar

Tak ada negeri yang bisa menampungmu

Dan ketika hargamu menjadi mahal

Tak ada seorangpun yang mau membelimu

 

SEORANG AHLI JIWA

Selain sebagai dokter yang bisa mengobati penyakit, Ibnu Sina juga seorang ahli ilmu jiwa (psikolog) yang sanggup mengobati dan menyembuhkan penderita sakit mental. Sebelum ilmu jiwa mengalami kemajuan yang cukup besar seperti sekarang ini dengan model pengobatan psikoanalisis, ratusan tahun yang lalu, Ibnu Sina sudah mempraktikannya pada orang-orang yang menderita sakit jiwa.

            Pada zaman Ibnu Sina dahulu, ada seorang lelaki menderita penyakit melancholia, sebuah penyakit jiwa yang timbul akibat penyakit empedu yang menyedihkan. Lelaki ini merasa dirinya sudah menjadi seekor sapi. Ia tidak mau makan dan minum bersama sesama manusia. Karena penyakitnya inilah, ia bertingkah laku seperti layaknya seekor sapi. Ia mengeluh. Ia ikut pergi ke kandang dan makan bersama sapi-sapi.

            Cukup lama ia menderita penyakit aneh ini. Tidak heran, bila kesehatannya terus melemah, tubuhnya semakin kurus dan warna kulitnya, terutama bagian wajah, tampak pucat. Itu semua karena kurang makan dan minum.

            Keluarganya sudah membawanya ke tabib untuk mendapatkan pengobatan. Tetapi, ternyata, tidak ada seorang tabib pun yang sanggup menyembuhkannya. Semuanya menyerah.

            Mereka pun membawanya kepada Ibnu Sina, yang saat itu namanya sedang menanjak. Ibnu Sina tahu cara mengobati orang yang mengalami gangguan jiwa. Setelah mengamati keadaan orang tersebut, Ibnu Sina bertanya.

            “Ada apa dengan mu?”

            “Aku tidak apa-apa,” jawab lelaki itu. “Aku hanya merasa telah menjadi seekor sapi. Aku melenguh, makan, minum, dan bertingkah laku sepertinya,”tambahnya.

“Kalau begitu, kamu ini memang benar seekor sapi. Aku akan menyembelihmu,”kata Ibnu Sina.

“Silakan, sembelihlah aku,”katanya.

Ibnu Sina lalu menyuruh beberapa orang mengikat laki-laki tersebut dengan seutas tali yang kuat. Setelah membaringkannya di atas tanah, Ibnu Sina meminta diambilkan sebilah pisau yang tajam. Sambil memegang pisau, Ibnu Sina mendekat dan membungkuk. Tetapi, ketika pisau sudah menempel di leher lelaki tadi, tiba-tiba Ibnu Sina berhenti.

“Wah, sayang sekali, sapinya masih kurus. Ia belum pantas disembelih,”kata Ibnu Sina.

“Tidak. Aku sudah pantas disembelih. Sembelih saja,”jawab lelaki itu.

“Jangan. Aku tidak mau menyembelih sapi yang masih kurus. Ia tidak banyak lemaknya,”kata Ibnu Sina.

“Jadi, apa yang harus aku lakukan supaya bisa lekas gemuk dan banyak lemak?” tanyanya.

“Kamu harus makan dan minum seperti layaknya manusia,”jawab Ibnu Sina.

Setelah mendengar jawaban tersebut, ia mulai mau makan dan minum seperti orang lain, sehingga berangsur-angsur kesehatannya pulih dan keadaan tubuhnya menjadi kuat. Dengan demikian, akalnya pun kembali normal dan penyakitnya hilang. Ia benar-benar sembuh.

Beberapa hari berikutnya, Ibnu Sina mengunjungi orang tersebut. Melihat ia dalam keadaan sehat lahir dan batin, Ibnu Sina bertanya dengan nada bercanda.

“Wah, rupanya sapi ini sudah gemuk.”

“Benar, bahkan, ia sudah pintar,”jawab lelaki itu dengan senang.

Keluarga lelaki itu juga merasa sangat gembira. Mereka berterima kasih sekali kepada Ibnu Sina yang telah menyembuhkannya.

Diceritakan pula bahwa dahulu, ada putera seorang gubernur menderita penyakit aneh. Ia dibawa kepada Ibnu Sina setelah para tabib gagal mengobati dan menyembuhkan penyakitnya. Setelah bertemu dan bercakap-cakap sejenak, Ibnn Sina tahu bahwa pasiennya ini tengah menderita penyakit cinta asmara atau malarindu. Tetapi, ia tidak mau berterus terang kepada siapapun tentang nama wanita yang dicintainya.

Ibnu Sina tahu bahwa pasiennya ini akan sembuh kalau dipertemukan dengan wanita yang menjadi kekasihnya. Tampaknya , ia begitu sangat mencintai. Dan, sebagai seorang dokter ahli jiwa yang sangat pintar dan cukup berpengalaman, tidak sulit bagi Ibnu Sina mengetahui nama wanita yang dicintai putera gubernur. Ternyata, ia puteri pamannya sendiri. Setelah keluarganya meminang wanita tersebut dan pinangannya diterima, seketika itu ia menjadi sembuh.

Lewat kedua cerita tersebut, terbukti bahwa Ibnu Sina adalah seorang dokter jiwa yang cerdik. Ia mengobati penyakit gangguan jiwa dengan cara mencari sumbernya.

 

KARYA TULIS

Sesungguhnya, Ibnu Sina adalah tokoh besar Islam. Ia adalah filosof dari Timur. Hal itu bukan saja diakui orang-orang Arab, tetapi juga para ilmuwan dari Barat. Menurut mereka, Ibnu Sina termasuk orang yang jenius, cerdik, dan pintar. Selain terkenal sebagai seorang ahli kedokteran, ia juga seorang ahli filsafat, astronom, dan ahli ilmu jiwa.

            Ibnu Sina telah meniggalkan karya-karya agung yang dapat membantu meningkatkan  keluhuran harkat manusia. Tidak berlebihan, jika penulis Perancis memberinya gelar “Aaristoteles Islam” dan “Hippocrates Islam”.

            Ibnu Sina dikenal aktif dalam urusan-urusan pemerintahan, pendidikan, penulisan, kesehatan, dan lain-lain. Washtankald, ilmuan Jerman, sempat menghitung karya tulis Ibnu Sina tidak kurang dari 150 judul yang membahas berbagai macam ilmu, seperti kedokteran, filsafat, agama, astronomi, bahasa, kebudayaan, sastra, musik, arsitektur, logika, dan ketuhanan.

            Ibnu Sina telah menyumbangkan kekayaan ilmunya kepada umat manusia,. Padahal, ia hidup pada zaman yang sering terjadi kekacauan. Karya-karya tulis Ibnu Sina menjadi sangat khas dan istimewa berkat isinya yang berbobot, pembahasan yang cukup mendalam, keterangannya yang jelas, dan kepintarannya dalam mengolah.

            Di antara tulisan Ibnu Sina yang cukup terkenal ialah al-Qanun (kedokteran), al-Syifa, al-Isyarat (filsafat), dan as-Siyasah (pendidikan).

Bahkan al-Qanun dijadikan salah satu literatur utama ilmu kedokteran pada sejumlah universitas Eropa selama 700th hingga abad XVIII. Buku ini mengupas dengan rinci masalah-masalah yang ada kaitannya dengan dunia kesehatan, yakni nama-nama penyakit, penyebab-penyebabnya, cara pengobatannya, dan akibat-akibatnya. Tidak berlebihan jika kemudian al-Qanun mendapat tempat terhormat dalam ilmu kedokteran di dunia internasional. Sir William Auslar, Qanun, “Ini adalah injil kedokteran yang masih layak untuk kurun waktu yang cukup lama.”

            Buku ini sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Di perpustakaan al-Ahliyat, Paris, masih terdapat naskah al-Qanun yang dicetak pada kertas menggunakan bahasa Arab dan diterbitkan pada penghujung abad XVI.

            Ibnu Sina juga menemukan obat-obatan herbal dari tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi kesehatan umat manusia. Bahkan, ia adalah seorang dokter yang pertama kali melakukan penyuntikan dibawah kulit pasien, dan menggunakan cara pembiusan untuk mengobati luka.

            Apa yang dilakukan Ibnu Sina tersebut jauh lebihmaju daripada yang terjadi di Negara-negara Eropa yang masih hidup dalam alam khufarat dan takhayul. Konon, apabila ada orang yang sakit, ia disalib pada sebatang pohon. Kemudian, seorang tabib atau dukun dan para pembantunya memukulinya dengan kejam sampai setan dan roh-roh halus lainnya keluar dari tubuh orang yang sakit tersebut. Menurut keyakinan mereka, setan dan roh-roh halus itulah penyakitnya.

            Oleh kaum filosof sesudahnya, buku-buku filsafat karya Ibnu Sina disejajarkan dengan buku-buku filsafat karya filosof terbesar Yunani, Aristoteles.

            Itulah Ibnu Sina dengan kehebatannya. Dan berikut ini adalah sejumlah karya tilisnya:

  1. Al-Qanun (Aturan), 10 jilid.
  2. Al-Syifa’ (Penyembuhan atau pengobatan), 8 jilid.
  3. Al-Isyarat (Petunjuk), 1 jilid. 
  4. Al-Majmu’ (Himpunan), 1 jilid.
  5. Al-Biir wa a-I Itsm (Perbuatan baik dan dosa), 2 jilid.
  6. Al-Arshad al-Kulliyyat (Petunjuk lengkap), 1 jilid.
  7. Al-Hashil wa al-Mahshul (Pokok-pokok), 2 jilid.
  8. An-Najat (Pembebesan), 3 jilid.
  9. Al-Inshaf (Keputusan), 20 jild.
  10. Al-Hidayat (Petunjuk), 1 jilid.
  11. Al-Qulanj (Penyakit perut), 1 jilid.
  12. Lisan al-Arab (Bahasa orang Arab), 10 jilid.
  13. Al-Mujaz (Ringkasan), 1 jilid.
  14. Al-Adwiyat al-Qalbiat (Obat-obatan penyakit jantung), 1 jilid.
  15. Al-Mabda’ wa al-Ma’ad (Asal dan tempat kenbali), 1 jilid.
  16. Al-M’ad (Tempat kembali), 1jild.
  17. Risalat al-Qadla’ wa al-Qadar (Ringkasan mengenai qadla dan takdir), 1jilid.
  18. Al-Mubahatsat (Dialog atau pembahasan), 1 jilid.
  19. Ghardh Qathiguriyas (Tujuan buku kategori), 1 jilid.
  20. Al-Alat al-Rashdiyyat (Peralatan astronomi), 1 jilid.
  21. Al-Maniq (logika), 1jilid.
  22. Al-Qasha-id fi al-Azhma (Sajak-sajak tentang keagungan dan filsafat), 1 jilid.
  23. Mukhtashar al-Nadhi (Ringkasan tentang nadi), 1 jilid.
  24. Mukhtashar Uqlidus (Ringkasan euqlid), 1 jilid.
  25. Al-Hudud (Batasan-batasan), 1 jilid.
  26. Al-Ajram al- Samawiyat (Benda-benda angkasa), 1 jilid.
  27. Al-Isyarat ila ilmi al Mantiq (Petunjuk menuju logika), 1 jilid.
  28. Al Aqsam al-Hikmah (Cabang-cabang filsafat), 1 jilid.
  29. Al-Nihayat wa ala al-Nihayat (Batas dan tiada batas), 1 jilid.
  30. Ahd (Sebuah perjanjian), 1 jilid.
  31. Al-hawasyi ala al-Qanun (Komentar tentang “Al Qanun”), 1 jilid.
  32. Uyun al-Hikmah (Intisari filsafat), 1 jilid.
  33. Asy Syabaqah wa al-thair (jarring dan burung), 1 jilid.

            Dan masih banyak karya tulis Ibnu Sina yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Hal itu mem buktikan bahwa Ibnu Sina seorang penulis besar pada zamannya.

 

HARI-HARI TERAKHIR

Pada hari-hari terakhir hidupnya, Ibnu Sina mandi, bermunajat mendekatkan diri pada Allah, menyumbangkan hartanya pada orang-orang fakir miskin, membela orang-orang yang tertindas, menolong orang-orang yang lemah, memerdekakan budak-budaknya, dan tekun membaca Al-Quran. Saking tekunnya, setiap tiga hari sekali ia bisa menghatamkan (menamatkan) Al-Quran.

            Semua itu terus dilakukan Ibnu Sina sehingga ajalnya tiba. Ia wafat di Hamadzan pada hari Jumat Ramadhan 428 Hijriyah, dalam usia 58 tahun. Jenazahnya dimakamkan di kota tersebut dan hingga sekarang ramai dikunjungi orang dari berbagai penjuru dunia.

            Sungguh besar jasa Ibnu Sina bagi umat manusia. Semoga Allah menerima Amalnya yang terbaik di sisi Allah. Amin.  

 Quoted from: Abdul Rosyad Shiddiq.

 

IBNU SINA 2

Hidup dan Karyanya

  1. A.  Hidupnya.

Ibnu Sina atau Avicenna (370-429 M), juga dikenal sebagai Al-Syaikh Al-Ra’is, adalah seorang di antara beberapa pemikir Muslim Abad Pertengahan yang telah menulis autobiografi, yang kemudian dituntaskan  oleh muridnya Abu ‘ubaid Al-Juzjaini. Autobiografi/biografi itu kemudian disebarkan oleh sejumlah penulis biografi, seperti Al-Baihaqi (w. 565 H/1170 M), Al-Qifthi (w. 646 H/1248 M), Ibn Abi Ushaibi ‘ah (w. 669 H/1270 M) dan Ibn Khallikan (w. 680 H/1282 M).

            Ibn Sina lahir di Afshanah (desa kecil dekat Bukhara, Ibu Kota Dinasti Samaniyyah), dan Mahmud. Saat Ibn Sina barumur lima tahun, keluarga ini pindah ke Bukhara. Di situlah, Ayahnya diangkat menjadi Gubernur Kharmayathnah, sebuah desa di pinggiran Kota Bukhara.

            Kisah selanjutnya tentang kehidupan, pendidikan, serta karier Ibn Sina sudah sangat dikenal. Gambaran  paling menarik dari kisah ini, adalah: (1) ia selesai belajar Al-Quran di literature Islam pada usia 10 tahun dan ilmu-ilmu lainnya, termasuk fiqih, astronomi, kedokteran, logika, dan filsafat pada usia 18 tahun, dan (2) produktivitasnya sangat besar, sekalipun ia hidup dalam kondisi politik labil yang kadang-kadang memaksanya mengungsi dari satu wilayah ke wilayah lain, pidah secara sembunyi-sembunyi dan bahkan di penjara.

  1. B.     Karyanya.

Jumlah karya yang ditulisnya (diperkirakan antara 100 sampai 250 buah judul), kualitas karya dan keterlibatannya dalam praktik kedokteran, mengajar, dan politik, semuanya tingkat kemampuan yang luar biasa.

            Pada usia yang masih sangat belia, Ibn Sina sudah berkenalan dengan berbagai ajaran religius, filsafat, dan ilmiah. Misalnya, ia sudah diperkenalkan dengan Rasa‘il (jamak dari risalah) Ikhwan Al-Shafa dan Isma’iliyyah oleh ayahnya, yang merupakan anggota sekte tersebut. Ia juga sudah dikenalkan dengan doktrin Sunni, karena guru fiqihnya, yaitu Ismail Al-Zaid, adalah seorang Sunni, dan tentu saja doktrin Syi’ah dua belas Imam. Di samping itu, kepadanya juga telah ditanamkan dasar-dasar logika, geometri, dan astronomi oleh gurunya yang lain, Al-Natili. Akan tetapi, ia memerdekakan pikirannya dengan cepat. Pertama, ia berpisah dari guru-gurunya, dan terus melanjutkan belajar secara autodidak; Kedua, ia tidak terikat atau taklid buta pada suatu doktrin yang telah dikemukakan kepadanya. Sebaliknya, ia mengambil dari berbagai sumber, lalu memilih apa yang dinilainya meyakinkan. Karena itu, kita melihat dalam sistem pemikirannya jejak-jejak peninggalan Platonisme, Aristotelianisme, Neoplatonisme, Gelenisme, Farabianisme, dan gagasan-gagasan Yunani Islam lainnya. Namun, sistemnya sangat unik, dan tidak dapat dikatakan mengkuti salah satu mazhab di atas. Bahkan Al-Syifa’, yang menceritakan kecenderungan  Aristotelian yang kuat, tidak murni Aristotelian sebagaimana umumnya diyakini orang. Teori penciptaan, misalnya, yang pada dasarnya Neoplatonik, dan teori kenabian yang esensinya Islami, hanya sekedar dua contoh dari banyak ajarannya yang non-Aristotelian. Al-Juzjani menegaskan keunikan karya ini dan menyatakan bahwa karya tersebut tak lain dan tak bukan adalah hasil pemikiran  Ibn Sina sendiri. Ibn Sina sendiri melakukan hal yang sama, menekankan orisinalitas pemikirannya dalam karya ini, terutama dalam Logika dan Fisika.

            Karya-karya terpenting Ibn Sina adalah Al-Qanun fi Al-Thibb, Al-Syifa’, Al-Najah, ‘Uyun Al-Hikmah, Danisynama-yi ’Ala’I, dan Al-Isyarat wa Al-Tanbihat. Al-Qanun fi Al-Thibb terdiri dari lima bagian. Telah diterjemahkan ke bahasa Latin beberapa kali, kitab ini dianggap sumber medis paling baik di Timur maupun di Barat selama lima abad (yaitu, hingga awal abad ke 11 H/17 M), dan tetap menjadi sumber utama kedokteran Islam yang dipraktikkan di mana-mana bahkan hingga kini, seperti di Anak Benua India-Pakistan. Materi-materi dalam Al-Syifa’, yang merupakan karya filosofis Ibn Sina yang paling detail, dikelompokkan menjadi empat topik: Logika, Fisika, Matematika, dan Metafisika. Logika dibagi menjadi Sembilan bagian, Fisika menjadi delapan bagian, dan Matematika menjadi empat bagian. Fisika (kecuali dua bagian mengenai binatang dan tumbuh-tumbuhan, yang diselesaikan setelah Matematika) adalah yang pertama ditulis, diikuti Metafisika, kemudian Logika, dan akhirnya Matematika. Al-Najah, sebagai ringkasan Al-Syifa’, juga terdiri dari empat bagian. Logika, Fisika, dan Metafisika dalam karya ini di persiapkan sendiri oleh Ibn Sina, dan Matematika oleh Al-Juzjani. ‘Uyun Al-Hikmah, yang juga dikenal sebagai Al-Mujaz, agaknya dimaksudkan untuk pengajaran Logika, Fisika, dan Metafisika dalam kelas,. Ini terbukti dari kesederhanaan, kejelasan, dan kelugasan dalam paparannya. Danysinama-yi ‘Ala’I juga terdiri dari empat bagian, dan sangat penting mengingat ia merupakan karya filsafat Peripatetik Islam pertama dalam bahasa Persia. Al-Isyarat wa Al-Tanbihat, yang merupakan karya filsafat Ibn Sina termatang dan terkomprehensif, juga terdiri dari Logika, Fisika, dan Metafisika. Karya ini ditutup dengan pembahasan mengenai misticisme, suatu uraian yang mungkin lebih tepat diklasifikasikan  ke dalam etika-ditijau dari pengertian sufinya dari pada Metafisika. Selain itu, Ibn Sina meninggalkan sejumlah esai dan syair. Beberapa esainya yang terpenting adalah Hayy ibn Yaqzhan, Risalah Al-Thair, Risalah fi sir Al-Qadar, Risalah fi Al-Isyq, dan Tahshil Al-Sa’adah. Sedangkan puisi terpentingnya adalah Al-Urjuzah fi Al-Thibb, Al-Qasidah Al-Muzdawiyyah, dan Al-Qasidah Al-‘Ainiyyah. Ia juga menulis sejumlah puisi dalam bahasa Persia.

PEMBAGIAN ILMU

Ibn Sina memahami “tujuan filsafat adalah penetapan realitas segala sesuatu, sepanjang hal itu mungkin bagi masusia”. Ada dua tipe filsafat, teoritis dan praktis. Yang pertama mencari pengetahuan tentang kebenaran; sedangkan yang kedua pengetahuan tentang kebaikan. Tujuan filsafat teoritis  adalah menyempurnakan jiwa dengan pengetahuan semata-mata. Tujuan filsafat praktis adalah menyempurnakan jiwa melalui pengetahuan tentang apa yang seharusnya dilakukan sehingga jiwa bertindak sesuai dengan pengetahuan ini. Filsafat teoritis adalah pengetahuan tentang hal-hal yang ada dan bukan karena plihan kita, sedangkan filsafat praktis adalah pengetahuan hal-hal yang ada berdasarkan pilihan dan tindakan kita.

LOGIKA

Ibn Sina menganggap logika sebagai kunci filsafat, yang pencarian (pengutahuan)-nya adalah kunci kebahagiaan manusia. Logika menjalankan fungsi tersebut dengan membantu menarik konsep-konsep dan penilaian-penilaian yang sudah diketahui sehingga meningkatkan drajat pengetahuan kita (konsep adalah objek mental tanpa penegasan atau negasi; penilaian adalah objek mental dengan penegasan atau negasi). Logika melakukan hal ini dengan bertindak sebagai seperangkat aturan atau kaidah untuk membedakan abash atau tidaknya frasa-frasa penjelas yang mewujudkan konsep-konsep serta merupakan instrumen untuk bergerak dari konsep-konsep yang dikenal ke konsep-konsep yang tak dikenal, maupun bukti yang mewujud kan penilaian-penilaian, dan alat untuk bergerak dari penilaian-penilaian yang diketahui ke penilaian-penilaian yang tidak diketahui. Sebab, yang absah membawa kepada kepastian yan tidak absah kepalsuan (kekeliruan). Pengetahuan hanya dapat dicapai melalui penggunaan logika, kecuali jika, pada kesempatan yang langka, Tuhan memberikan pengetahuan ini tanpa usaha manusia.

FISIKA

Fisika berhubungan denga studi tentang prinsip-prinsip tertentu dan tentang hal-hal yang terkait dengan benda-benda alam. Prinsip-prinsip ini pada dasarnya dada tiga: materi, bentuk, dan intelegen. Intelek ini dianggap sebagai prinsip alam sepanjang ia menjadi sebab yang mengikat materi dan bentuk, serta menjadi sebab keberadaan (eksistensi) benda-benda alam. Hanya karena ia mempunyai hubungan dengan alam. Hanya karena ia mempunyai hubungan dengan alam fisiklah intelek agen dibahas dalam fisika, dan bukan lantaran ia mempunyai sifat dasar seperti tu juga bukan karena ia mempinyai hubungan seperti itu dengan prinsip-prinsip atau intilijibel-intilijibel yang terpisah. Hal-hal yang melekat pada benda-benda alam, antara lain, adalah gerak, diam, waktu, tempat, kekosongan, keberinggaan, dan sebagainya.

 

METAFISIKA

Metafisika adalah ilmu yang memberikan pengetahuan tentang prinsip-prinsip filsafat teoretis. Ini dilakukan dengan cara mendemonstrasikan  perolehan sempurna prinsip-prinsip tersebut melalui intelek. Metafisika berhubungan dengan maujud (eksisten atau ada) sepanjang ia ada, maksudnya, berhubungan dengan maujud mutlak atau umum dan berhubungan apa yang terkait dengannya. Dengan katalain, subjek metafisika adalah maujud, bukan lantaran maujud itu diterapkan pada sesuatu dan bukan karena sesuatu yang partikular dilekatkan padanya, seperti dalam fisika dan matematika (seperti kuantitas dan kualitas, aksi dan reaksi, yang dikaitkan pada objek-objek fisika), tetapi karna ia diterpkan pada prinsip wujud dan karena sesuatu yang universal dilekatkan pedanya (seperti keesaan dan kemajmukan, potensi dan aktualitas, kekekalan dan kemenjadian, kesempurnaan dan ketaksempurnaan, keniscayaan (kemestian) dan kemungkinan). Kualitas-kualitas ini adalah aksiden-aksiden non-esensial dari maujud partikular. Metafisika mencoba mengkaji maujud umum dan aksiden-aksiden non-esensialnya.   Kita memahami dari logika Ibn Sina bahwa aksiden esensial adalah aksiden yang bukan merupakan atau tidak termasuk dalam esensi dari sesuatu, melainkan pasti menyertai sesuatu itu, seperti “tertawa” untuk “manusia”. Aksiden non-esensial tidak merupakan esensi dari sesuatu, juga tidak niscaya menyertainya, seperti “putih” boleh jadi terdapat dalam diri “manusia”.             

Quoted from: Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam.

 

IBNU SINA 3

 

 

            IBNU SINA, Abu Ali al-Husain bin Abdullah (Afsyanah, Bukhara, 370 H/980 M-Hamdan, 420 H/1037 M). Dokter dan filusuf Islam termasyhur. Di Barat beliau terkenal dengan nama Avicenna. Ayahnya seorang pegawai tinggi pada Dinasti Samaniah (204-395 H/819-1005 M). Sejak kecil Ibnu Sina belajar menghafal Al-Qur’an dan ilmu-ulmu agama. Pada usia 10 tahun beliau sudah khatam Al-Qur’an dan sastra Arab. Kemudian mempelajari matematika, logika, fisika, geometri, astronomi, hukum Islam, teologi, kedokteran, dan metafisika. Dengan demikian, ia menguasai bermacam-macam ilmu pengetahuan. Profesinya di bidang kedokteran dimulai sejak umur 16 atau 17 tahun. Banyak tabib senior yang belajar kepada beliau tentang ilmu kedokteran, karena beliau banyak mengadakan riset di bidang tersebut. Kepopulerannya sebagai dokter bermula ketika ia berhasil menyembuhkan Nuh bin  Mansur (976-997), salah seorang penguasa dinasti Samaniah. Dia dua kali menjabat sebagai menteri pada Dinasti Hamdani (293-394 H/905-1004 M). Karena terlibat persoalan politik dan fitnah dari orang yang denki, ia dipenjarakan dan dipecat kedudukannya sebagai menteri. Kebesaran Ibnu Sina terlihat dari beberapa gelar yang diberikan orang kepadanya, seperti Asy-Syaikh ar-Ra’is (Guru Para Raja) di bidang filsafat dan Pangeran Para Dokter di bidang kedokteran. Dia banyak meninggalkan karya tulis, semuanya tidak kurang dari 200 buah, termasuk buku saku dan kumpulan suratnya, kebanyakan berbahasa Arab, selainnya bernahasa Persia. Bukunya yang terkenal, antara lain, asy-Syifa’ (penyembuhan), al-qanun fi at-Tibb (Peraturan-Peraturan dalam Kedokteran) yang selama lima abad menjadi literatur penting bagi fakultas-fakultas kedokteran di Eropa, al-Isyarah wa at-Tanbihat (Isyarat dan Penjelasan), Mantiq al-Masyriqiyyin (Logika Timur), dan Uyun al-Hikmah (Mata Air Hikmah).

            Ibnu Sina memiliki pemikiran keagamaan yang mendalam. Pemahamannya mempengaruhi pandangan filsafatnya, ketajaman pemikirannya dan kedalaman  keyakinan pemikirannya. Ibnu Rusyd menyebutnya sebagai seorang yang agamis dalam berfilsafat, sementara al-Gazali menjulukinya sebagai filusuf yang terlalu banyak berfikir.

            Mengikuti pendahulunya, al-Farabi, ia mengakui bahwa alam ini diciptakan dengan jalan emanasi (memancar dari Tuhan). Tuhan adalah wujud pertama yang immateri dan dari-Nya-lah memancar segala yang ada. Tuhan sebagai al-Wujud al-Awwal berpikir tantang diri-nya, lalu dari pemikiran itu timbullah wujud kedua yang disebut akal pertama. Akal pertama ini mempunyai tiga objek pemikiran, yaitu Tuhan, diriNya sebagai wajib al-wujud, dan diriNya sebagai mumkin al-wujud. Pemikiran akal pertama tentang Tuhan melahirkan akal-akal berikutnya sampai pada akal ke sepuluh. Pemikian akal pertama tentang dirinya sebagai wajib al-wujud memancarkan jiwa-jiwa dan pemikiran akal tentang dirinya sebagai mumkin al-wujud melahirkan semua langit. Demikianlah seterusnya, setiap akal yang jumlahnnya sepuluh itu mempunyai tiga objek pemikran dan dari pemikiran inilah kemudian memancar alam ini. Karena itu, ia tidak menerima konsep penciptaan dari tiada menjadi ada (Creatio ex nihilo) seperti yang dipahami oleh kebanyakan teolog Islam. Baginya alam ini qodim (tidak mempunyai permulaan dari segi waktu). Antara Tuhan dan terjadinya alam tidak terdapat kesenjangan waktu. Pendapat ini mendapat tantangan keras dari al-Gazali dalam bukunya Tahafut al-Falasifah (kekacauan par a filusuf).

            Pemikiran filsafatnya yang lain ialah tentang konsep an-nafs (jiwa). Baginya, jiwa itu terbagi tiga: jiwa tumbuhan, jiwa binatang, dan jiwa manusia. Jiwa tumbuhan memiliki tiga daya: makan, tumbuh, dan berkembang biak. Jiwa binatang memiliki dua daya: daya bergerak dan daya menangkap. Daya bergerak dapat berbentuk marah, syahwat, dan berpindah tempat. Adapun daya menangkap terbagi dua: daya menagkap dari luar dengan menggunakan indera-indera luar yang lazim disebut pancaindera, terdiri atas: penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan lidah, dan perasaan tubuh; dan daya menangkap dari dalam menggunakan pancaindera batin, yaitu indera bernama (al-hiss al-musytarak), indera penggambar (al-khayal), indera pereka (al-mutakhayyilah), indera penganggap (al-wahamiah) dan indera pengingat (al-hafizah). Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang, jiwa manusia hanya memiliki satu daya, yaitu (1) akal materiil, yang baru merupakan potensi, untuk menangkap arti-arti murni, arti-arti yang tak pernah berada dalam materi, (2) akal bakat, yaitu akal yang kesanggupannya berpikir secara murni abstrak telah mulai nampak, (3) akal aktual, yaitu akal yang telah terlatih untuk menangkap arti-arti yang murni, dan (4) akal perolehan, yaitu tingkat akal yang tertinggi dan terkuat dayanya, yaitu akal yang di dalamnya arti-arti abstrak tersebut sedia untuk dikeluarkan dengan mudah. Akal serupa inilah yang sanggup menerima limpahan ilmu pengetahuan dari akal aktif (akal ke sepuluh). Menurut penjelasan Ibnu Sina, akal aktif itu adalah Jibril.

            Ia menjelaskan bahwa sifat seseorang bergantung pada jiwa mana dari ketiga jiwa itu yang berpengaruh pada dirinya. Jika jiwa binatang dan tumbuh-tumbuhan yang berkuasa pada dirinya, maka orang itu dekat menyerupai sifat-sifat binatang, sebaliknya jika jiwa manusia yang dominan berpengaruh, maka orang itu dekat menyerupai sifat-sifat malaikat dan  dekat pada kesempurnaan. Tentu saja Jiwa manusia berlainan dengan jiwa binatang dan tumbuh-tumbuhan, ia besifat kekal. Jika jiwa manusia telah mempunyai kesempurnaan sebelum ia berpisah dengan badan, maka ia akan memperoleh kesenangan abadi di akhirat. Sebaliknya, jika ia berpisah dengan badan dalam keadaan tidak sempurna akibat terpengaruh oleh godaan hawa nafsu, maka ia akan sengsara selama-lamanya di akhirat.

            Dalam flsafatnya tentang wahyu dan nabi,  Ibnu Sina menjelaskan bahwa akal manusia yang telah mencapai derajat akal perolehan dapat mengadakan hubungan dengan Jibril. Komunikasi itu bisa terjadi karena akal perolehan telah begitu terlatih dan begitu kuat daya tangkapnya sehingga sanggup menangkap hal-hal yang abstrak murni. Akan tetapi, komunikasi antara seorang nabi dengan Tuhan dilakukan bukan melalui akal perolehan, melainkan melalui akal dalam derajat materiil. Seorang nabi, menurut pendapatnya, dianugerahi Tuhan dengan akal materiil yang meskipun lebih rendah derajatnya dari akal perolehan namun mempunyai daya tangkap yang luar biasa sehingga tanpa latihan ia langsung dapat mengadakan komunikasi langsung dengan Jibril. Akal demikian mempunyai kekuatan suci. Tidak ada yang lebih kuat dari akal demikian dan hanya dimiliki oleh para nabi. Filusuf hanya dapat menerima ilham, sedangkan wahyu hanya diberikan kepada nabi.

            Bukan hanya dalam filsafat dan kedokteran saja Ibnu Sina memberikan andil dan pemikirannya, ia juga turut serta ambil bagian dan memberikan andil kepada berbagai ilmu pengetahuan pada zamannya, di antara yang menonjol adalah ilmu astronomi. Ibnu Sina menambahkan dalam bukunya al-Mages (buku tentang astronomi) berbagai problem yang belum dibahas, mengajukan beberapa keberatan terhadap Euclides, meragukan pandangan Aristoteles tentang kesamaan bintang-bintang tak bergerak, kesamaan kesatuan jaraknya, dan sebagainya. Untuk itu didalam buku Asy-Syifa’ ia menguraikan bahwa bintang-bintang yang tak bergerak tidak berada pada satu globe. Ibnu Sina juga banyak membuat rumusan-rumusan tentang pembentukan gunung-gunung, barang-barang tambang, di samping menghimpun berbagai analisis tentang fenomena atmosfer, seperti angin, awan, dan pelangi, sementara orang yang sezaman dengannya tidak mampu menambahkan sesuatu ke dalam bidang penelitian mereka.

            Ibnu Sina juga mendalami masalah-masalah fikih dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Ia banyak menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an untuk mendukung pandangan-pandangan filsafatnya.

Quoted from:Encyclopedia Islam.

 

Artikel ini diambil dari 3 sumber  yang berbeda sebagai komparasi satu sama lain.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s