artikel Sinkretisme

SINKRETISME

Presented by: Rusmanhaji

Apakah yang dimaksud dengan Singkretisme?

Sinkretisme adalah upaya untuk penyesuaian pertentangan perbedaan kepercayaan sementara sering dalam praktek berbagai aliran berpikir. Istilah ini bisa mengacu kepada upaya untuk bergabung dan melakukan sebuah analogi atas beberapa ciri-ciri tradisi, terutama dalam teologi dan mitologi agama, dan dengan demikian menegaskan sebuah kesatuan pendekatan yang melandasi memungkinkan untuk berlaku inklusif pada agama lain.

Sinkretisme juga terjadi umumnya di sastra, musik, memperwakilkan seni dan lain ekspresi budaya. (Bandingkan konsep ekslektikisme.) Sinkretisme mungkin terjadi di arsitektur, sinkretik politik, meskipun dalam istilah klasifikasi politik memiliki arti sedikit berbeda.

I. PENDAHULUAN

 

Salah satu sifat dari masyarakat Jawa adalah bahwa mereka religius dan bertuhan. Pada masa awal kedatangan Islam di Kepulauan Nusantara khususnya di Jawa, masyarakat telah menganut dan memiliki berbagai kepercayaan dan agama seperti animisme, dinamisme, Hindu, dan Budha. Pada masa itu kepercayan dan agama tersebut telah melekat dan mendarah daging dalam kehidupan masyarakat.Namun, dengan pengamatan selintas dapat diketahui dalam keberagamaan rata-rata masyarakat Jawa adalah nominalis, dalam arti bahwa mereka tidak bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ajaran agamanya. Karena kurangnya keseriusan dalam memahami dan mengamalkan agamanya, berakibat pada beberapa hal, yang antara lain mudahnya mereka untuk tergiur dalam mengadopsi kepercayaan, ritual, dan tradisi dari agama lain, terutama tradisi asli pra Hindu-Budha yang dianggap sesuai dengan alur pemikiran mereka, itulah salah satu dari beberapa penyebab adanya sinkretisme agama di Jawa.[1] Dalam makalah kami selanjutnya akan dibahas secara detail tentang sinkretisme tersebut.

Tulisan Beatty  membela Geertz yaitu  mencoba untuk menggambarkan bahwa Islam Jawa hakikatnya adalah Islam sinkretik atau paduan antara Islam, Hindu/Budha dan kepercayaan animistik. Melalui pendekatan multivokalitas dinyatakan bahwa Islam Jawa sungguh-sungguh merupakan Islam sinkretik. Corak Islam Jawa merupakan pemaduan dari berbagai unsur yang telah menyatu sehingga tidak bisa lagi dikenali sebagai Islam. Kenyataannya Islam hanya di luarnya saja, akan tetapi intinya adalah keyakinan-keyakinan lokal. Melalui tulisannya yang bertopik “Adam and Eva and Vishnu: Syncretism in the Javanese Slametan” digambarkan bahwa inti agama Jawa ialah slametan yang di dalamnya terlihat inti dari ritual tersebut adalah keyakinan-keyakinan lokal hasil sinkresi antara Islam, Hindu/Budha dan animisme.

Meskipun menemukan konsep baru dalam jajaran kajian agama-agama lokal, yaitu bagan konseptual “lokalitas”, tetapi Mulder [2] tetap dapat dikategorikan sebagai kajian hubungan antara Islam dan masyarakat dalam konteks sinkretisme. Ketidaksetujuan Mulder terhadap Geertz, sesungguhnya merupakan perbedaan pandangan tentang Islam, Hindu/Budha dan animisme itu bercorak paduan di antara ketiganya ataukah yang lain. Mulder sampai pada kesimpulan bahwa hubungan itu bercorak menerima yang relevan dan menolak yang tidak relevan. Ternyata yang dominan menyaring setiap tradisi baru yang masuk itu adalah unsur lokal. Jadi ketika Islam masuk ke wilayah kebudayaan Jawa, maka yang disaring adalah Islam. Ajaran Islam yang cocok akan diserap untuk menjadi bagian dari tradisi lokal sedangkan yang tidak cocok akan dibuang. Itulah sebabnya Islam di Jawa hanya kulitnya saja tetapi intinya adalah tradisi lokal tersebut. Kajian-kajian ini menggambarkan tentang bagaimana cara pandang sarjana Barat tentang Islam di Indonesia, yang digambarkannya sebagai Islam nominal, yaitu Islam yang hanya di dalam pengakuan dan bukan masuk ke dalam keyakinan dan penghayatan.[3]

 

II. RUMUSAN MASALAH

 

Dalam makalah ini saya akan mengambil beberapa rumusan masalah yang nantinya akan dibahas dalam makalah ini, antara lain:

  1. Apa Pengertian Sinkretisme?
  2. Bagaimana Munculnya Islam Sinkretik dalam Masyarakat Jawa?
  3. Apa Praktek-praktek Sinkretisme dalam Masyarakat Jawa?
  4. Apa itu Pesantren Jawa dan Tradisi Maulid.?
  5. Apakah ada Animisme?
  6. Apa Dampak Asyura dan Kesyahidan Husen?
  7. Apa Reaksi terhadap Usaha Sinkretisasi

III. PEMBAHASAN

 

  1. A.    Pengertian Sinkretisme

Secara etimologis, sinkretisme berasal dari kata syin dan kretiozein atau kerannynai, yang berarti mencampurkan elemen-elemen yang saling bertentangan. Adapun pengertiannya adalah suatu gerakan di bidang filsafat dan teologi untuk menghadirkan sikap kompromi pada hal yang agak berbeda dan bertentangan.

Simuh menambahkan bahwa sinkretisme dalam beragama adalah suatu sikap atau pandangan yang tidak mempersoalkan murni atau tidaknya suatu agama. Oleh karena itu, mereka berusaha memadukan unsur-unsur yang baik dari berbagai agama, yang tentu saja berbeda antara satu dengan yang lainnya, dan dijadikannya sebagai satu aliran, sekte, dan bahkan agama.[4]

Menurut Sumanto al-Qurtubi, “proses sinkretisme menjadi tak terelakkan ketika terjadi perjumpaan dua atau lebih kebudayaan/tradisi yang berlainan.[5]

Dalam menerangkan keberagaman masyarakat Jawa, kuncaraningrat membagi mereka menjadi dua, yaitu agama Islam Jawa dan agama Islam Santri. Yang pertama kurang taat kepada syariat dan bersikap sinkretis yang menyatukan unsur-unsur pra-Hindu, Hindu, dan Islam, sedangkan yang kedua lebih taat dalam menjalankan ajaran agama Islam dan bersifat puritan.Namun demikian, meski tidak sekental pengikut agama Islam Jawa dalam keberagamaan, para pemeluk Islam santri juga masih terpengaruh oleh animisme, dinamisme, dan Hindu-Budaha.[6]

 

  1. B.     Munculnya Islam Sinkretik dalam Masyarakat Jawa.[7]

Ketika Islam masuk ke pulau Jawa ada dua hal yang perlu dicatat. Pertama, pada waktu itu hampir secara keseluruhan dunia Islam dalam keadaan mundur. Dalam bidang politik, antara lain ditandai dengan jatuhnya Dinasti Abbasiyah oleh serangan Mongol pada 1258M, dan tersingkirnya Dinasti Al Ahmar di Andalusia (Spanyol) oleh gabungan tentara Aragon dan Castella pada 1492M. Di bidang pemikiran. kalau pada masa-masa sebelumnya telah muncul ulama-ulama besar di bidang hukum, teologi, filsafat, tasauf, dan sains, pada masa-masa ini pemikiran-pemikiran tersebut telah mengalami stagnasi. Pada masa ini telah semakin berkembang pendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup dan kelompok-kelompok tarekat sesat semakin berkembang di kalangan umat Islm.

Dan kedua, sebelum kedatangan Islam di Jawa, agama Hindu, Budha, dan kepercayaan asliyang berdasarkan animisme dan dinamisme telah beruratakar di kalangan masyarakat Jawa. Oleh karena itu, dengan datangnya Islam terjadi pergumulan antara Islam di satu pihak, dengan kepercayaan-kepercayaan yang ada sebelumnya di pihak lain. Akibatnya, muncul dua kelompok dalam menerima Islam. Pertama, yang menerima Islam secara total dengan tanpa mengingat pada kepercayaan-kepercayaan lama. Dan Kedua, adalah mereka yang menerima Islam, tetapi belum dapat menerima ajaran lama. Oleh karena itu, mereka mencampuradukan antara kebudayaan dan ajaran Islam dengan kepercayaan-kepercayaan lama.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, Islam yang berkembang di Indonesia mula-mula adalah Islam shufi (mistik), yang salah satu ciri khasnya adalah sifatnya yang toleran dan akomodatif terhadap kebudayaan dan kepercayaan setempat, yang dibiarkannya eksis sebagaimana semula, hanya saja kemudian diwarnai dan diisi dengan ajaran Islam.

Sikap toleran dan akomodatif terhadap kepercayaan dan kebudayaan setempat, di satu sisi memang dianggap membawa dampak negatif, yaitu sinkretisasi dan pencampuadukkan antara Islam di satu sisi dengan kepercayaan-kepercayaan lama di pihak lain, sehingga sulit dibedakan mana yang benar-benar ajaran Islam dan mana yang berasal dari tradisi. Namun aspek positifnya, ajaran yang disinkretisasi tersebut telah menjadi jembatan yang memudahkan bagi masyarakat Jawa untuk menerima Islam sebagai agama mereka yang baru. Dan sebaliknya, ajaran tersebut telah memudahkan pihak Islam pesantren untuk mengenal dan memahami pemikiran budaya Jawa.

 

  1. C.    Praktek-praktek Sinkretisme dalam Masyarakat Jawa.[8]

Untuk lebih mengkongkritkan pengertian dan pemahaman tentang masalah sinkretisme, berikut ini dinukilkan bebrapa contoh.

  1. Penggabungan antara Dua Agama/Aliran atau Lebih. Menggabungkan dua agama atau lebih dimaksudkan untuk membentuk suatu aliran baru, yang basanya merupakan sinkretisasi antara kepercayan (lokal Jawa) dengan ajaran agama Islam dan agama lainnya. Sebagai contoh dari langkah ini adalah ajaran Ilmu Sejati yang diciptakan oleh Raden Sujono alias Prawirosudarso, yang berasal dari Madiun. Menurut pengakuannya, ajaran Ilmu Sejati diasaskan pada kesucian yang dihimpun dari ajaran Islam, Kristen, dan Budha.
  2. Dalam Masalah Kepercayaan
    1. Konsep mengenai Kosmogoni dan Kosmologi

Dalam masyarakat Jawa telah beredar mite tentang penciptaan alam dan manusia. Walupun mite-mite tersebut berbeda, tetapi di dalamnya terdapat satu persaman, semuanya menyebutkan Adam sebagai manusia dan nabi pertama.

Salah satu mite menyebutkan bahwa Brahma adalah pencipta bumi, sedangkan Wisnu adalah pencipa manusia. Setelah berhasil menciptakan bumi, Brahma berusaha menciptakan manusia. Namun, setelah berusaha tiga kali dan gagal, ia menyuruh Wisnu untuk meneruskan usahanya yang gagal.

Setelah manusia dan nabi pertama tercipta, sadarlah Wisnu bahwa seorang manusia Adam saja belum memadai untuk mengisi dunia ini. Kemudian terpikirlah oleh Wisnu untuk mencarikan Adam seorang teman, oleh karena itu, ketika Wisnu melihat setangkai teratai di atas kolam, maka ia meminta untuk menjelma menjadi seorang perempuan sebagai teman adam, kemudian menjelmalah ia menjadi perempuan cantik yang diberi nama Kana (Hawa).

Dari uraian di atas terlihat bahwa mite ini berusaha untuk mengkompromoikan ajaran Islam dengan penyebutan Adam dan Hawa, dan ajaran Hindu dengan menyebut nama Brahma dan Wisnu dalam penciptaan alam dan manusia.

  1. Silsilah Raja-raja Mataram

Dalam Rangka menambah wibawa dan legitimasi raja-raja Mataram yang berasal dari orang biasa (Ki Ageng Pemanahan), dibuatlah silsilah politik untuk menunjukkan bahwa dari garis ibu mereka adalah keturunan para wali yang berujung pada Nabi Muhammad (silsilah penengen), dan dari garis bapak mereka berasal dari keturunan para dewa sekaligus Nabi Adam (silsilah pengiwa).

Tulisan di atas menunjukkan sinkretisasi antara ajaran Islam dan Hindu, dengan mengaitkan bahwa manusia adalah keturunan para dewa. Namun ternyata para dewa juga masih keturunan manusia juga, yaitu Adam dan Sis.

c. Bidang Ritual

1). Upacara Midodareni

Bagi masyarakat tradisional, pergantian waktu dan perubahan fase kehidupan adalah saat-saat genting yang perlu dicermati dan diwaspadai. Untuk itu mereka mengadakan upacara peralihan yang berupa slametan, makan bersama (kenduri), prosesi dengan benda-benda keramat dan sebagaimya. Begitu pula sebelum Islam datang, di kalangan masyarakat Jawa sudah terdapat ritual-ritual keagamaan. Hal ini diwujudkan dalam bentuk slametan yang berkait dengan siklus kehidupan, seperti kelahiran, kematian, membangun dan pindah rumah, menanam dan memanen padi, serta penghormatan terhadap roh para leluhur dan roh halus. Ketika Islam datang ritual-ritual ini tetap dilanjutkan, hanya isinya diubah dengan unsur-unsur dari ajaran Islam. Maka terjadilah islamisasi Jawaisme (keyakinan dan budaya Jawa).

Upacara Midodareni misalnya, adalah suatu ritual yang dilangsungkan pada malam hari menjelang hari perkawinan. Ritual ini dimaksudkan sebagai usaha keluarga pengantin untuk mendekati para bidadari dan roh halus supaya melindungi kedua calon pengantin dari mara bahaya yang menganggu jalannya perkawinan dan hari-hari sesudahnya. Dikalangan muslim yang taat dalam beragama, ritual ini diisi dengan pembacaam Barzanji, kalimat toyyibah, dan tahlil.

2). Upacara Barokahan dan Sepasaran

Dalam Islam, ketika seorang bayi lahir, ayah ibunya disyariatkan untuk melaksanakan aqiqah, dengan menyembelih seekor kambing kalau yang dilahirkan perempuan, dan duaekor kambing kalau yang dilahirkan laki-laki. Namun kenyataan menunjukkan masyarakat muslim Jawa tidak melaksanakan perintah ini. Sebagai gantinya mereka mengadakan upacara barokahan (diadakan setelah bayi lahir ke dunia ni dengan selamat) dan sepasaran (ketika bayi berusia lima hari), dengan harapan dan doa, agar anak yang dilahirkan tersebut akan menjadi orang linuwih di kemudian hari.

3) . Dalam Doa dan Mantera salah satu jasa Sunan Makhdum Ibrahim, yang dikenal sebagai Sunan Bonang, dalam menyebarkan Islam di Jawa adalah mengganti nama-nama dewa-dewa yang terdapat dalam mantera-mantera dan doa dengan nama nabi, malaikat, dan tokoh-tokoh terkenal di dalam Islam. Dengan cara ini diharapkan masyarakat berpaling dari memuja dewa-dewa dengan menggantinya dengan tokoh-tokoh yang berasal dari dunia Islam.

4). Menggabungkan Agama dengan Budaya Lokal

yang dimaksud dengan menggabungkan Islam dengan budaya lokal dalam konteks ini adalah melaksanakan syariat Islam dengan kemasan budaya Jawa. Berbakti kepada kedua orang tua adalah wajib. Dalam melaksanakan syariat ini masyarakat Jawa biasanya menggunakan media sungkem.

 

  1. Pesantren Dan Tradisi Maulid

Peringatan Mawlid Nabi Muhammad SAW. sejak pertama kali diperkenalkan oleh seorang penguasa Dinasti Fatimiyah (909-117.M.) sudah menimbulkan kontrofersi. Peringatan tersebut saat itu memang masih dalam taraf ujicoba. Ujicoba kelayakan ini tanpak ketika penguasa Dinasti Fatimiyah berikutnya melarang penyelenggaraan peringatan Mawlid tadi2. Peringatan Mawlid diadakan untuk menegaskan bahwa keluarga Dinasti Fatimiyah adalah betul betul keturunan Nabi Muhammad SAW. (ahl al-bayt). Penegasan hubungan geneologi ini sangat diperlukan untuk mengesahkan “hak” keluarga Fatimiyah sebagai “pewaris kekuasaan politiknya” Nabi Muhammad.

Bukti lain bahwa keabsahan peringatan Mawlid masih diperdebatkan adalah, bahwa banyak ulama dari berbagai madhhab secara eksplisit menunjukkan sikap pro dan kontra terhadap tradisi ini. Al-Suyuti, seorang ulama’ dari madhhab Shafi’i, menulis kitab Husn al-Maqsid fi ‘Amal al-Mawlid untuk mengesahkan tradisi Mawlid. Sebaliknya, al-Fakihin, seorang ulama dari madhhab Maliki, menolak peringatan Mawlid yang secara terurai dia jelaskan alasan alasannya dalam kitabnya al-Mawrid fi Kalam ‘al-Mawlid.[9]

Dalam era modern, peringatan Mawlid bukan hanya dipersoalkan oleh kelompok reformis-puritan, seperti orang-orang Wahhabi yang dengan tegas mengharamkannya, tetapi juga oleh mereka yang moderat. Argumen “klise” yang mereka ajukan adalah bahwa peringatan Mawlid tidak diperintahkan dalam nass (teks) al-Qur’an, tidak pula dicontohkan oleh Rasul Allah dan juga tidak pernah ditradisikan oleh para Salaf.[10]

Peringatan Mawlid berubah menjadi sebuah perayaan yang di selenggarakan hampir disetiap kawasan Islam, setelah dipopulerkan oleh Abu Sa’id al-Kokburi, Gubernur wilayah Irbil di masa pemerintahan Sultan Salah al-Din al-Ayyubi. Peringatan yang sepenuhnya memperoleh dukungan dari kelompok elit politik saat itu, diselenggarakan untuk memperkokoh semangat keagamaan umat Islam yang sedang menghadapi ancaman serangan tentara Salib (Crusaders) dari Eropa. Namun perlu disebutkan bahwa peringatan ini diselenggarakan dengan menyisipkan kegiatan hiburan, dimana atraksi atraksinya melibatkan para musisi, penyanyi serta pembawa cerita (story tellers). Ukuran kemeriahan peringatan bisa dilihat dari banyaknya jumlah pengunjung yang datang dari berbagai kawasan, bahkan sampai dari luar wilayah kekuasaannya Abu Sa’id al-Kokburi.[11]

E.     Kepercayaan animisme

Animisme (dari bahasa Latin anima atau “roh”) adalah kepercayaan kepada makhluk halus dan roh merupakan asas kepercayaan agama yang mula-mula muncul di kalangan manusia primitif. Kepercayaan animisme mempercayai bahawa setiap benda di Bumi ini, (seperti kawasan tertentu, gua, pokok atau batu besar), mempunyai jiwa yang mesti dihormati agar semangat tersebut tidak mengganggu manusia, malah membantu mereka dari semangat dan roh jahat dan juga dalam kehidupan seharian mereka.

Diperkirakan bahwa di provinsi Kalimantan Barat masih terdapat 7,5 juta orang Dayak yang tergolong pemeluk animisme.

Selain daripada jiwa dan roh yang mendiami di tempat-tempat yang dinyatakan di atas, kepercayaan animisme juga mempercayai bahawa roh orang yang telah mati bisa masuk ke dalam tubuh hewan, misalnya suku Nias mempercayai bahwa seekor tikus yang keluar masuk dari rumah merupakan roh daripada wanita yang telah mati beranak. Roh-roh orang yang telah mati juga bisa memasuki tubuh babi atau harimau dan dipercayai akan membalas dendam orang yang menjadi musuh bebuyutan pada masa hidupnya. Kepercayaan ini berbeda dengan kepercayaan reinkarnasi seperti yang terdapat pada agama Hindu dan Buddha, di mana dalam reinkarnasi, jiwa tidak pindah langsung ke tubuh hewan lain yang hidup, melainkan dilahirkan kembali dalam bentuk kehidupan lain. Pada agama Hindu dan Buddha juga terdapat konsep karma yang berbeda dengan kepercayaan animisme ini.

  1. F.     Asyura dan kesyahidan husein[12]

Abdul Hadi dalam artikelnya tang berjudul, W. M. Asura dan kesyahidan husein Dalam  hikayat  Muhammad Ali Hanafiyah menulis, ”Kesyahidan Husein dikenal luas di dunia Islam. Kematiannya yang mengenaskan, tubuh bersimbah darah, tangan terpotong dan kepala terpisah dari badan, senantiasa diingat oleh banyak orang Islam. Hari wafatnya yang jatuh pada tanggal 10 Muharam pun selalu diperingati di banyak negeri,  baik yang mayoritas penduduknya Sunni maupun Syiah. Semua itu menunjukkan bahwa tragedi Kerbela yang terjadi hampir tiga belas abad yang lalu itu memiliki arti tersendiri bagi kaum Muslimin.

Di Indonesia kisah kesyahidan Amir Husein, demikian ia disebut dalam teks Melayu, telah dikenal sejak masa awal pesatnya perkembangan Islam pada abad 13 – 15 M.  Pada masa inilah hikayat tersebut mulai dikarang dalam bahasa Melayu. Dua versi paling masyhur yang dijadikan sumber penulisan versi-versi lain pada masa berikutnya ialah yang berjudul  Hikayat Muhammad Ali Hanafiyahh dan Hikayat Sayidina Husein. Yang disebut pertama dikarang sekitar abad ke-14 atau 15  M berdasarkan sumber Persia, sedangkan yang belakangan dikarang sekitar abad ke-17 M di Aceh.

 Dalam hikayat ini dijelaskan arti penting peringatan 10 Muharam, begitu juga cara pelaksanaannya. Tetapi dalam kenyataan kemudian muncul dua bentuk penyelenggaraan yang berbeda. Yang pertama, peringatan yang lebih bersahaja sebagaimana terdapat di Aceh, pulau Jawa, Madura dan Sulawesi Selatan. Di Aceh peringatan 10 Muharam disebut Hari Asan dan Usin. Di Jawa dan Madura disebut Hari Sura atau Asura. Sehari sebelum 10 Muharam tiba, orang melakukan puasa sunat. Esok harinya penduduk membuat bubur merah yang dibagi-bagikan kepada tetangga atau kerabat. Malam harinya diadakan pengajian, dan tidak jarang pula diadakan majlis untuk mendengarkan pembacaan hikayat tragedi Kerbela dan perang Muhammad Ali Hanafiyah melawan Yazid. Penyelenggaraan Hari Sura atau Hari Asan Usin jelas merujuk pada keterangan yang terdapat dalam Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah.

Yang kedua, bentuk penyelenggaraan yang lebih kompleks dan mirip dengan perayaan 10 Muharam di Iran dan India. Bentuk perayaan seperti ini dijumpai di Bengkulu dan Sumatra Barat , dan mulai diadakan sejak akhir abad ke-18 M ketika Inggris menguasai Bengkulu dan bersamanya membawa banyak orang Syiah dari India. Perayaan di Bengkulu dan Padang dimeriahkan dengan arak-arakan tabut yang aneka ragam bentuknya melambangkan kesyahidan Husein dan pernikahannya dengan Syahrbanum, putri khusraw Persia terakhir Yazgidird II yang setelah tertawan pasukan kaum Muslimin pindah menganut agama Islam. Arak-arakan dimeriahkan dengan musik tambur yang gemuruh. Ini menggambarkan suasana pasukan Husein dan Muhammad Ali Hanafiyah  yang dengan gagah berani maju ke medan perang. Sepuluh hari sebelum perayaan dimulai, diadakan upacara ma` ambil tanah (mengambil tanah) dan pada ketika itulah tabut-tabut mulai dibuat (Brakel 1975).

 

F. Reaksi terhadap Usaha Sinkretisasi.[13]

Dalam mengahadapi sinkretisasi ajaran-ajaran Islam dengan tradisi Jawa pra-Islam, paling tidak telah muncul tiga pendapat. Di kalangan masyarakat Jawa terdapat orang-orang muslim taat, yang kalau ditanya tentang landasan dalam mengamalkan ajaran-ajaran Islam, mereka menjawab landasanya adalah al-Quran dan as-Sunnah. Namun meskipun mereka mempunyai landasan yang sama, implementasi gagasan ini di lapangan berbeda antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Kelompok pertama adalah yang berusaha untuk mengamalkan ajaran-ajaran Islam dengan baik dan bersikap hati-hati dalam menyikapi tradisi dan budaya lokal, terutama yang dianggapnya berbau takhayul, khurafat, dan syirik.bagi yang menerima pendapat ini, al-Quran dan as-Sunnah sudah mengatur peri kehidupan serta semua tata cara ritual dan kepercayaan untuk semua pemeluk agama Islam. Oleh karena itu bagi mereka, ritual dan kepercayaan yang tidak diajarkan didalm keduanya tidak perlu, dan bahkan haram dikerjakan.

Kelompok kedua adalah kelompok moderat. Orang-orang yang berada dalam kelompok ini beranggapan bahwa dalam berdakwah, seorang dai atau mubaligh harus menggunakan al-hikam (cara-cara yang bijak). Oleh karena itu, dalam menghadapi masyarakat Jawa yang sudah kadung mbalung sungsum dengan tradisi dan adat istiadat lama, tidak boleh digunakan cara-cara radikal yang justru akan menjauhkan para mubaligh dari objek dakwah. Upacara slametan yang berkaitan dengan siklus kehidupan yang tidak ada tuntunannya di dalam al-quran dan as-sunnah tidak dilarang, tetapi dibiarkannya tetap berlangsung dengan dimodifikasi dan memasukkan unsur-unsur Islam ke dalamnya.

Kelompok yang ketiga adalah mereka yang dapat menerima sinkretisme secara keseluruhan. Yang menerima pemikiran ini, pertama, adalah mereka yang mengikuti langkah Empu Tantular dalam menghadapi perbedaan ajaran agama yang satu dengan yang lain. Keyakinan mereka menyebutkan bahwa semua agama beresensi sama, mereka beranggapan bahwa tidak ada salahnya apabila pemeluk salah satu agama mengambil tata cara ritual dan kepercayaan agama lain dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhannya. Dan yang kedua, adalah mereka yang kurang mendalam pengetahuannya tentang Islam, sehingga tidak dapat membedakan antara ajaran agama Islam yang sebenarnya dengan tradisi lokal yang sudah bercampur menjadi satu sehingga sulit dipilah-pilahkan antara keduanya.

 

IV. KESIMPULAN

Sinkretisme Islam di Jawa lebih disebabkan, karena masyarakat Jawa sendiri yang sulit meninggalkan tradisi-tradisi dan budaya lokal. Oleh sebab itu, terjadilah percampuran/penggabungan antara proses atau ritual keagamaan yang dikemas dalam tradisi lokal masyarakat Jawa.

Dalam menanggapi sinkretisme masyarakat Jawa terbagi menjadi tiga golongan, pertama, golongan yang berusaha untuk mengamalkan ajaran-ajaran Islam dengan baik dan bersikap hati-hati dalam menyikapi tradisi dan budaya lokal, terutama yang dianggapnya berbau takhayul, khurafat, dan syirik. Kedua, golongan moderat. Dan yang ketiga, golongan yang dapat menerima sinkretisme secara keseluruhan.

 

V. PENUTUP

Demikianlan makalah ini kami buat, tentunya dengan segala kekurangannya, kami minta saran dan kritik yang membangun dari para pembaca sekalian, demi kesempurnaan makalah kami selanjutnya.dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdul Hadi dalam artikelnya yang berjudul, W. M. Asura Dan Kesyahidan Husein, 2011.

Ahimsakarya Press, Jogjakarta, 2003.

Annemarie Schimmel, And Muhammad is His Messenger (Chapel Hil Nort Caroline: Press, 19854). 149

Ibn Khallikan, Biographical Dictionary, Vol 2 (ter.) Bn. Mc.Guckin de Slane (Paris: Printed for the Oriental Translation Fund of Great Britain and Ireland.1842-1871). 539.

Ibtihadj Musyarof, Islam Jawa, Cet I, Tugu Publisher, Jogjakart, 2006.

M. Darori Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa, Gama Media, Yogyakarta, 2000.

Niels Mulder, Agama, Hidup Sehari-hari dan Perubahan Budaya, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1999.

Nur Syam, Islam Pesisir, LKiS, Jogyakarta, 2005.

Sumanto Al-Qurtubi, Arus Cina-Islam-Jawa “Bongkar Sejarah Atas Peranan Thionghoa dalam Penyebaran Islam di Nusantara Abad XV & XVI”, Inspeal

 


[1] Ibtihadj Musyarof, Islam Jawa, Cet I, Tugu Publisher, Jogjakart, 2006. hlm. 108

 

[2] Niels Mulder, Agama, Hidup Sehari-hari dan Perubahan Budaya, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1999.

[3] Nur Syam, Islam Pesisir, LKiS, Jogyakarta, 2005.

 

[4] M. Darori Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa, Gama Media, Yogyakarta, 2000. hlm. 87-90

[5] Sumanto Al-Qurtubi, Arus Cina-Islam-Jawa “Bongkar Sejarah Atas Peranan Thionghoa dalam Penyebaran Islam di Nusantara Abad XV & XVI”,Inspeal Ahimsakarya Press, Jogjakarta, 2003. hlm 67 ibid., hlm. 93-97

[6] op.cit., hlm. 90-93

[7] ibid., hlm. 93-97

 

[8] ibid., hlm. 97-108

 

[9] Lihat al-Suyuthi, Husn al-Maqsid fi ‘Amal al-Mawlid (Dar al-Kutub al-Ilmiyah,1985), 45-61.

 

[10] Annemarie Schimmel, And Muhammad is His Messenger (Chapel Hil Nort Caroline: Press, 19854). 149

[11] Lihat Ibn Khallikan, Biographical Dictionary, Vol 2 (ter.) Bn. Mc.Guckin de Slane (Paris: Printed for the Oriental Translation Fund of Great Britain and Ireland.1842-1871). 539.

 

[12] Abdul Hadi dalam artikelnya tang berjudul, W. M. Asura dan kesyahidan husein

[13] ibid., hlm. 108-112

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s