FILSAFAT TASAWUF SHADRUDDIN AL-QUNAWI

FILSAFAT TASAWUF SHADRUDDIN AL-QUNAWI

Dr. Kholid Al-Walid, MA

 Pesona yang luar biasa menarik minat berbagai kalangan dari berbagai tingkat intelektualitas dan agama untuk mengkaji ajaran-ajaran Mistik Ibn Arabi, kebesaran dan keagungannya telah melampaui ruang dan waktu. Ajaran-ajarannya yang mempesona telah membuat baik ilmuwan muslim maupun non-muslim menghabiskan waktu-waktu mereka untuk mengkaji dan mendalami bahkan mengikuti ajaran-ajaran Ibn Arabi. Karya terkenalnya Fusush al-Hikam merupakan kitab kedua setelah al-Qur’an yang paling banyak dikomentari.

Di Barat nama-nama besar seperti William Chittick, Sachiko Murata, Fritjhof Schuon, Anemarie Schimel adalah ilmuwan-ilmuwan yang secara intens mengkaji pemikiran Ibn Arabi, bahkan telah berdiri Ibn Arabi Society yang anggota tersebar diseluruh dunia.

Namun demikian tidak seorangpun dapat melupakan tokoh utama yang telah memperkenalkan pemikiran-pemikiran Ibn Arabi, yang melaluinyalah karya-karya bahkan komentar-komentar terhadap karya-karya Ibn Arabi terhasilkan sepanjang sejarah.

Adalah Sadr al-Din Muhammad Qunawi, murid khusus, khalifah sekaligus anak tiri Ibn Arabi yang telah berjasa besar mengajarkan ajaran-ajaran Ibn Arabi dan melahirkan murid-murid besar yang menjadi mediator-mediator pemikiran dan ajaran Ibn Arabi. Karenanya tidaklah sempurna kajian Tasawuf Filosofis tanpa mengkaji sosok dan pemikiran Sadr al-Din Qunawi. Semoga karya singkat ini dapat mendekatkan kita pada sosok agung tersebut.

A. Latar belakang Kehidupan Al-Qunawi

Sadr al-Din Muhammad bin Ishaq bin Yusuf bin Ali Qunawi dilahirkan di Qunniyah sebuah kota di propinsi Malatiyyah Anatolia pada tahun 606 / 607 H dan meninggal dunia juga di Qunniyah pada tahun 673 H. Ia dikenal dengan laqab Syaikh al-Kabir dengan Kuniyah Abu al-Ma’ali. Qunawi dikenal sebagai Syaikh yang agung yang menguasai berbagai pengetahuan baik zhahir maupun bathin dari ilmu fiqh sampai dengan thariqat dan hakikat. Kebesarannya juga meliputi para Wali Allah yang diantaranya; Jalaluddin Rumi menulis pada wasiatnya untuk dishalatkan hanya oleh Sadr al-Din al-Qunawi.

Sejak kecil ia telah Yatim yang diperkirakan tahun wafat ayahnya pada 615 H. Pada masa itu Syaikh Qunawi masih sangat kecil dengan tubuh yang sangat lemah dan sakit-sakitan dan hanya diasuh oleh ibunya yang kemudian dinikahi oleh Syaikh al-Akbar al-muhyiddin Ibn Al-Arabi, karenanya sejak kecil Syaikh Qunawi berada dalam asuhan dan pendidikan Ibn Arabi sehingga mencapai puncak kesempurnaan perjalanan ruhani dan tidak diketahuil bahwaQunawi belajar kepada guru yang lain kecuali hanya pada Ibn Arabi. Ibn Arabi sendiri menetap di Malatiyyah sekitar tahun 618 H.

Qunawi pada masa itu masih berusia sekitar sebelas atau dua belas tahun dan kemudian mengikuti gurunya eksodus ke Damaskus dan tidak pernah berpisah sampai dengan akhir usia gurunya tersebut. Di Damaskus ini ia menghabiskan waktunya dengan memenuhi seluruh jiwanya dengan ilmu dan pengetahuan yang ia dapat dari guru terkasihnya Ibn Arabi dan bahkan kemudian ia membuka kelas-kelas pelajaran dengan mendidik murid-muridnya dengan berbagai pengetahuan.

Sadr al-Din Muhammad al-Qunawi selain merupakan sahabat terdekat, Khalifah, Penerus maupun pelayan bagi Syaikh al-Kabir Muhyiddin Ibn Arabi, yang tanpa Qunawi sulit dibayangkan ajaran-ajaran Ibn Arabi dikenal luas. Ia merupakan murid paling khusus dari Ibn Arabi selain juga sebagai anak tirinya dan menduduki posisi sebagai pengganti Ibn Arabi setelah wafatnya. Qunawi sangat dikenal sebagai komentator paling luar biasa dari karya-karya Ibn Arabi terutama dalam prinsip utama ajaran Ibn Arabi “Wahdat al-Wujud” dan untuk itu ia menulis khusus sebuah kitab dengan judul “Nafakhat al- Ilahiyyah”.

Ketika wafat Ibn Arabi pada tahun 638 H. Syaikh Qunawi merasa kehilangan sebagian jiwanya, ia menulis beberapa syair tentang kesedihannya ketika ditinggalkan gurunya tersebut; Syaikh Qunawi beberapa waktu meneruskan pengajarannya di Damaskus dan kemudian meninggalkan Damaskus pada tahun 640 H menuju Hijaz untuk menunaikan ibadah Haji kemudian meneruskan perjalanannya ke Mesir dan tinggal beberapa waktu di Mesir. Dalam masa tinggalnya di Mesir ia berjumpa dengan pemikiran Ibn Sab’in yang mengemukakan pemikiran-pemikiran Ibn Sab’in yang berpandangan Wahdat al-Wujud.

Kemudian Syaikh Qunawi kembali kekampung halamannya Qunniyah dan menetap di sana sampai akhir usianya. Di Qunniyah seperti layaknya Syaikh-Syaikh agung yang lain, Qunawi mengajar hadist-hadist dan memberikan komentar terhadap empat puluh hadist mistis.

Menjelang wafatnya Qunawi menulis wasiat agar di makamkan disamping kekasihnya Ibn Arabi di Damaskus, akan tetapi karena hal tersebut sulit di laksanakan maka Syaikh qunawi kemudian di makamkan di Qunniyah.

B. Murid dan Sahabat-sahabat Syaikh Qunawi

Salah satu tanda dari keagungan seorang ulama adalah murid yang dihasilkannya. Sadr al-Din al-Qunawi merupakan tokoh besar yang telah melahirkan pemikir-pemikir besar dalam sejarah Islam, khususnya dalam bidang Tasawuf, Kalam, dan Hadist.

Murid-murid besar Syaikh Qunawi dalam bidang tasawuf, di antaranya Syaikh Mu’ayyid al-Jandi komentator utama kitab Fusush al-hikam Ibn Arabi,

Tentang gurunya itu Mu’ayyid al-Jandi menulis :

“Dia merupakan penghuluku, sanadku dan pemimpinku dalam menuju Allah Ta’ala, Imam Alam, Pemilik ilmu para Alim yang paling berpengetahuan, Syaikh dari seluruh Syaikh Islam Hujattullah dalam semesta, Sultan bagi para pencari kebenaran, Tempat berteduh bagi para Arif dan Washil, permata Allah dalam alam semesta, Imam pewaris ajaran Muhammad, penyempurna bagi Afrad dan Nazar dari putra-putra Ilahiyah, Abu al-Ma’ali Sadr al-Haq dan Al-Din, Yang menghidukan Islam dan kaum muslimin Muhamad bin Ishaq bin Muhammad bin Yusuf al-Qunawi (Semoga Allah meridhoinya dan apa-apa yang dihasilkannya), telah mengajarkan kepadaku Khutbah al-Kitab dan telah menampakkan apa yang didapatinya dari keghaiban ayat-ayat-Nya dan telah meniupkan Nafas Al-Rahmani melalui nafasnya dan tenggelam zhir maupun bathinku dalam ruh kesuciannya dan wewangian nafas nama-nama-Nya dan kebangkitannya. Dia telah merubah bathinku dengan perubahan yang menkjubkan melalui kemuliaan bathinnya dan meninggalkan pengaruh yang sempurna dalam jejak-jejakku, memahamkan kepadaku tentang Allah dari seluruh hakikat al-Kitab seluruhnya dalam syarh khutbahnya dan mengilhamkan kepada seluruh rahasia dari segala kedekatan tersebut”

Maulana Sa’id al-Din al-Faraghani komentator Qasidah al-Tha’iyyah al-Fardiyah yang sangat terkenal sebagai tuntunan ajaran-ajaran sufistik. Karya Faraghani tersebut berjudul “Masyariq al-Durarhi al-Zhuhar fi Kasyfi Haqaiq Nazhm al-dhurariy” dalam bahasa Persia., Syamsuddin Ayki dan Syaikh Fakhr al-Din al-Iraqi penulis Kitab “Al-Lam’at” dan Afi al-Din al-Tilmisani Komentator “Manazil al-Sa’irin”.

Dalam bidang Hadist beberapa muridnya yang ternama antara lain; Quthb al-Din al-Syirazi, Khwaja Nashir al-Din al-Thusi dan dengan Syaikh Thusi ini Al-Qunawi meninggalkan karya besar “Al-Murasalat” yang berisikan surat- menyurat antara dirinya dengan Syaikh Thusi meliputi berbagai persoalan Hikmah, Kalam, dan sebagainya.

Sahabat-sahabatnya yang dikenal luas di antaranya; Sa’du al-Din al-Humumi, Mawlana jalal al-Din al-Rumi, Syaikh Awhadayn al-Din al-Kermani dan sebagainya yang diantara mereka bahkan mewasiatkan untuk dikafani hanya dengan pakaian Syaikh al-Qunawi.

C. Karya-Karya Syaikh Qunawi

<!–[if !supportLists]–>1.      <!–[endif]–>I’jaz al-Bayan fi Ta’wil Ummul Qur’an; Merupakan tafsir Qunawi terhadap Surat Al-Fatihah dan merupakan sebuah bentuk penafsiran mistikal yang di dalamnya Qunawi menjelaskan seluruh bentuk ajaran-ajaranya. Karya ini termasuk di antara karya terpenting Qunawi

<!–[if !supportLists]–>2.      <!–[endif]–>Miftah al-Ghaib al-Jam’ wa al-Wujud; Karya ini merupakan penjelasan Qunawi tentang prinsip-prinsip Wujud dan kesatuannya namun sayangnya karya ini tidak tuntas karena ditulis pada akhir usianya, namun demikian apa yang ada dari karya ini sudah sangat memadai dalam menjelaskan tentang prinsip ajarannya meskipun sangat sulit skeli untuk dipahami. Saat ini karya tersebut sudah diberikan komentar oleh Muhammad ibn Hamzah al-Fanari dan diajarkan di Iran khusus bagi pelajar-pelajar yang telah menamatkan Fusush al-Hikam Ibn Arabi meskipun kitab tersebut merupakan penjelasan terhadap Fusush al-Hikam akan tetapi karena tingkat kepelikannya yang hanya dapat dipahami setelah memahami Fusush al-hikam Ibn Arabi.

<!–[if !supportLists]–>3.      <!–[endif]–>Al-Nusus fi Tahqiqi al-Tur al-Khusus ; Karya ini merupakan kumpulan 20 naskah tulisan Syaikh Qunawi yang berkaitan dengan perjalanan menuju puncak kesempurnaan.

<!–[if !supportLists]–>4.      <!–[endif]–>Al-Nafakhat al-Ilahiyah ; Karya ini terbit di Tehran dan diterbitkan oleh Intisyarat Mawla. Karya ini merupakan penyingkapan rahasia Al-Haq berdasarkan hasil Mukasyafah Syaikh Qunawi seperti halnya Fusush al-Hikam pada Ibn Arabi.

<!–[if !supportLists]–>5.      <!–[endif]–>Al-Fukuk fi Asrar Mustanadat Hukm al-Fusus ; Merupakan Komentar Syaikh terhadap kitab Fusush al-Hikam Ibn Arabi. Diterbitkan oleh Intisyarat Mawla Tehran.

<!–[if !supportLists]–>6.      <!–[endif]–>Syarh al-Araba’in Haditsan ; Diterbitkan di Turki, merupakan komentar Syaikh terhadap hadist-hadist mistis dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

<!–[if !supportLists]–>7.      <!–[endif]–>Al-Tauhid al-Atam al-A’la Nahu al-Haq Jalla wa ‘Ala

<!–[if !supportLists]–>8.      <!–[endif]–>Syarh Al-Sajarat al-Nu’maniyah fi al-Daulat al-Utsmaniyyah

<!–[if !supportLists]–>9.      <!–[endif]–>Risalat al-Mafshahah

<!–[if !supportLists]–>10.  <!–[endif]–>Syarh al-Asma al-Husna

<!–[if !supportLists]–>11.  <!–[endif]–>Risalat Syair wa Suluk

<!–[if !supportLists]–>12.  <!–[endif]–>Kitab Ilm al-Ilm

<!–[if !supportLists]–>13.  <!–[endif]–>Syu’ab al-Iman

<!–[if !supportLists]–>14.  <!–[endif]–>Al-Risalat al-Mursyidiyah fi Ahkam Sifat al-Ilahiyat

<!–[if !supportLists]–>15.  <!–[endif]–>Kasyf al-Sir

<!–[if !supportLists]–>16.  <!–[endif]–>Risalat fi al-Maratib al-Kasyf

<!–[if !supportLists]–>17.  <!–[endif]–>Risalat fi al-Mabda’ wa al-Ma’ad

<!–[if !supportLists]–>18.  <!–[endif]–>Kitab al-Ilma’ bi Ba’du Kuliyyat asrar al-Sima’

<!–[if !supportLists]–>19.  <!–[endif]–>Risoleh’iy dar Bobe Arsy ; Karya ini ditulis dalam bahasa Persia.

<!–[if !supportLists]–>20.  <!–[endif]–>Al-Mufawidhat

<!–[if !supportLists]–>21.  <!–[endif]–>Wasiat Syaikh Sadr al-Din Inda Wafatihi ; Merupakan wasiat Syaikh kepada murid-muridnya dan tentang ajaran-ajarannya serta keinginannya untuk dimakamkan di samping guru sekaligus kekasihnya Syaikh Muhyiddin Ibn Arabi.

<!–[if !supportLists]–>22.  <!–[endif]–>Risalat Khirqat al-Tasawuf ; Karya ini merupakan gambaran Syaikh Qunawi tentang perjalanan Tasawufnya di tangan Syaikh Akbar Ibn Arabi.

Inilah beberpa karya syaikh Qunawi yang masih tersisa sampai saat ini, sebagian menyatakan bahwa masih terdapat beberapa karya lain dari Syaikh yang belum ditemukan.

 D. Ajaran-Ajaran Syaikh Qunawi

1. Wahdat Al-Wujud

Wahdat al-Wujud merupakan prinsip ontologis dari ajaran Tasawuf yang dikembangkan secara sempurna oleh Muhyidin Ibn Arabi, namun demikian istilah Wahdatul Wujud sama sekali tidak dapat kita temukan dalam karya-karya Ibn Arabi. Istilah Wahdat al-Wujud sendiri baru ditemukan pada karya murid utamanya Syaikh Qunawi, karenanya sebagain besar menyebutkan bahwa Qunawilah yang memperkenalkan ajaran Ibn Arabi dengan sebutan Wahdatul Wujud, seperti yang disampaikannya ketika menjelaskan keyakinan Syaikh Ibn Arabi :

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya persoalan Wahadatul Wujud, tanpa kesempurnaan keutamaan dan pencerahan Ilahi, upaya untuk memahaminya tertutup sehingga banyak dari kalangan terdahulu maupun kemudian keliru dalam hal ini”

Walaupun demikian persoalan ini bukan persoalan mendasar karena substansi dari konsep ontologis tentang wujud yang satu tersebutlah makna dari Wahdatul Wujud.

Pandangan Wahdatul Wujud merupakan pandangan bahwa wujud atau eksistensi yang ada dan hakiki hanyalah satu, hal ini didasari argument bahwa Wujud tidaklah terbatas dan dibatasi oleh apapun, makna wujud hanyalah satu karena tidak mungkin memberikan lebih dari satu makna bagi wujud karena satu-satunya istilah lain yang ada dihadapan wujud adalah ‘Adam atau Ketiadaan sedangkan hakikat Ketiadaan tidak lain adalah ketiadaan itu sendiri. Karenanya Wujud merupakan hakikat yang satu, Wujudlah yang menampakkan berbagai bentuk yang nampak sebagai manifestasi dirinya, seperti halnya cahaya yang memancar, hakikat cahaya hanyalah satu meskipun memancarkan warna yang beragam dengan kualitas yang berbeda atau seperti wajah yang tampil dicermin yang banyak bahwa secara hakikat wajah tersebut satu namun termanifestasikan secara plural.

Syaikh Qunawi dalam hal ini menjelaskan: “Akan tetapi wujud hanyalah satu yang sama diantara keseluruhan bentuk yang diperoleh dari Al-Haq Yang Maha Suci” . Penjelasan ini menggambarkan bahwa dalam pandangan Qunawi Wujud pada hakikatnya hanyalah satu yang tergambarkan dalam bentuk-bentuk akan tetapi segala bentuk wujud yang ada pada hakikatnya tidak berbeda (Musytarak) dan keseluruhan wujud tersebut tidak lain merupakan wujud yang terpancarkan dari diri Al-Haqq.

Pandangan ini secara gamblang menggambarkan kepada kita doktrin Wahadatul Wujud dalam bagian lain Syaikh Qunawi menyebutkan :

“Dan dari segi bahwa Wujud eksternal terpancar dalam semesta tidak lain kecuali gambaran dari keseluruhan hakikat diri-Nya yang disebut dengan Wujud Universal dan Tajalli Sari dalam hakikat mumkin…(dan dapat disebut) Cahaya dan penampakan zhahir”

Qunawi dalam hal ini menunjukkan bahwa wujud yang satu dan universal melakukan proses Tajalli sehingga terlihat sebagai bentuk plural tapi sebenarnya wujud tidak lain adalah hakikat diri-Nya yang satu.

2. Tajalli Ilahi

Doktrin lain yang disampaikan Syaikh Qunawi berkaitan dengan proses Tajalli Ilahi, ketika Al-Haqq sebagai wujud tersembunyi mengenal diri-Nya termanifestasikanlah berbagai realitas plural yang tidak terbatas dan dalam hubungan dengan realitas plural yang tercipta tersebut bagi Qunawi semua itu tidaklah memiliki independensi, mereka seperti bentuk-bentuk yang terhasilkan akibat wadah-wadah yang menjadi identitasnya :

“Meskipun tiada sesuatu kecuali satu Wujud, ia menampakkan diri-Nya sebagai yang berbeda-beda, banyak dan beraneka karena perbedaan realitas-realitas dari wadah-wadah. Meskipun demikian dalam diri-Nya sendiri dari segi keterlepasannya dari tempat penampakan wujud tidak beraneka dan tidak banyak”.

Dalam hal ini seperti gurunya, Qunawi menggambarkan dua hal penting yang terjadi pada hakikat Tuhan yaitu Tanzih dan Tasybih. Tanzih merupakan pengibaratan Dia sebagai Wujud tak terbatas dan berada dalam hakikat ke-Dia-an semata sedangkan Tasybih merupakan bentuk emanasi Tuhan dalam berbagai bentuk yang menjadikan wujud tampak plural.

Pluralitas tersebut terjadi karena Al-Haqq sendirilah yang memanifestasikan diri-Nya sebagai upaya diri-Nya menampilkan kesempurnaan-Nya :

“Ketahuilah bahwa Haq Yang Maha Suci ketika merindukan untuk menampakkan diri-Nya dalam gambaran kesempurnaan-Nya tersembunyi dalam keghaiban ‘Kediaan-Nya’ meliputi segala sesuatu dengan hukum substansi-Nya yaitu tampak dalam aneka bentuk bukan untuk menampilkan keanekaan tersebut semata ataupun hanya menggambarkan zat-Nya pada setiap keanekaan tersebut akan tetapi keanekaan segala sesuatu sebagai manifestasi dari keseluruhan diri-Nya maka tampaklah pada setiap individu dari keseluruhan individu sebagai sebuah bentuk universal berdasarkan diri-Nya. Maka dapat diketahui bahwa segala sesuatu merupakan manifestasi kemutlakan diri-Nya.

Perbedaan yang terjadi pada makhluk-makhluk tersebut berdasarkan keterliputan hukum setiap keanekaan tersebut dalam hubungan dengan hukum Zat”.

Penegasan ini secara gamblang menggambarkan kesatuan Wujud Mutlak Tuhan yang bertajalli atau bermanifestasi dalam bentuk-bentuk keanekaan. Pada dasarnya segala bentuk keanekaan yang didapati pada wujud mumkin merupakan gambaran dari kemutlakan diri Tuhan yang kemudian terbedakan berdasarkan hubungan setiap identitas dengan Zat Tuhan, Semakin lemah hubungan tersebut semakin plural-lah setiap bentuk tersebut dan semakin terbataslah dirinya. Berbeda halnya dengan bentuk-bentuk yang kuat hubungannya dengan Zat, semakin dekat hubungan tersebut semakin sempurnalah bentuk tersebut.

Dalam hal ini Qunawi membagi proses perwujudan keanekaan tersebut dalam dua bentuk Tajalli utama dan Ta’ayunnat (pembentukan identitas), seperti penjelasannya berikut ini :

Tajalli Pertama adalah Hadrat Ahadiyat Universal, Wujud dan pengidentitasan identitas pertama dan potensi pertama sedangkan Tajalli kedua meliputi pemisahan setiap hakikat dan martabat yang lebur dalam hukum pada identitas pertama”.

Secara mendasar Qunawi membagi Tajalli kedalam dua bentuk utama, pada Tajalli pertama Tuhan mentajallikan dirinya dalam kesatuan yang didalamnya tergantung segala sesuatu kemudian dari Tajalli pertama muncul Tajalli kedua yang memisahkan setiap potensi-potensi plural pada identitas pertama menjadi identitas-identitas actual dan dari Tajalli kedua inilah kemudian muncul berbagai Tajalli dan Identitas berikutnya.

Sa’id Rahimiyyan menggambarkan dua bentuk Tajalli yang dikembangkan Qunawi dalam skema berikut ini :

(terlampir)

 3. Wahdatul Adyan

Doktrin Qunawi yang tidak kalah pentingnya adalah Wahdatul Adyan atau kesatuan agama-agama. Seperti layaknya para penganut doktrin Wahdatul Wujud lainnya Syaikh Qunawi dalam hal ini meyakini bahwa segala bentuk keyakinan dan agama yang tampak beragam dan berbeda satu sama lain, pada hakikatnya semuanya hanyalah satu. Gambaran eksoteris saja yang menunjukkan bentuknya yang beragam, dalam dimensi

Esoteris semuanya menyatu dan tidak terpisahkan satu sama lain. Syaikh Qunawi menyatakan doktrin ini ketika menjelaskan aqidah Syaikh Ibn Arabi :

“Dan telah dinyatakan olehnya (Ibn Arabi) sebuah keyakinan terhadap Wahdatul Wujud hingga Wahadatul Adyan, tidak berbeda baik itu agama samawi ataupun selainnya. Segala bentuk agama tersebut menyembah satu Tuhan semata yang bertajalli dalam bentuk-bentuk manifestasinya dan beragam bentuk sesembahan. Tujuan utama dari ibadah seorang hamba kepada Tuhannya tidak lain merupakan realisasi dari penyatuan dirinya secara substansial (Zattiyah)”.

Keberagaman agama-agama yang terlihat pada hakikatnya hanyalah gambaran dari beragamnya manifestasi Tuhan setelah melakukan proses Tajalli, akan tetapi semuanya beribadah dan menyembah Tuhan Yang Satu semata. Pandangan Syaikh Qunawi tentang doktrin Wahadtul Adyan berangkat tentu dari keyakinan utamanya tentang Wahdatul Wujud, karena doktrin utama inilah yang menyebabkan lahirnya pandangan kesatuan agama-agama karena jika tidak, seperti halnya para teolog yang meyakini bahwa Wujud Tuhan bersifat Transenden semata, maka agama-agama yang ada berbeda satu sama lain berdasarkan kekeliruan dalam penyembahan terhadap Tuhan.

Untuk lebih jelas Frithjof Schuon menggambarkan pandangan ini seperti berikut :

(terlampir)

Skema yang digambarkan Fritjhof Schuon ini, menjelaskan bahwa berbagai bentuk agama-agama yang beragam hanya tampak pada wilayah Eksoteris sedangkan pada wilayah Esoteris seluruh agama tersebut menyatu, karena pada hakikatnya seperti juga dijelaskan Qunawi, seluruh agama tersebut menuju titik utama yang satu, yaitu Al-Haqq.

Pandangan Wahdatul Adyan ini tentu saja sangat controversial karena disini klaim-klaim kebenaran agama menjadi relative dan semua agama berada dalam sebuah realitas yang sama.

4. Insan Kamil

Manusia sempurna atau Insan Kamil merupakan salah satu doktrin yang cukup principal pada ajaran Syaikh Qunawi, meskipun dalam hal ini tidak seperti halnya Jilli yang menulis secara khusus tentang Insan Kamil, Qunawi menggambarkan Insan Kamil sebagai bentuk Alam Saghir yang merupakan bentuk sempurna dari Tajalli Ilahi kedalam diri manusia.

Insan Kamil bagi Qunawi merupakan gambaran diri manusia yang telah mencapai tingkat kesempurnaan karena dekatnya hubungan dengan Zat Ilahi. Di dalam diri Insan Kamil telah teraktualisasi seluruh nama-nama Tuhan beradasarkan proses perjalanan ruhani yang terjadi melalui Hadharat al-Khamsah dan tidak terpisahkan dari diri Tuhan. Hal ini dinyatakan Sayikh Qunawi sebagai berikut :

“Sedangkan keadaan kesempurnaan yang diberikan Allah SWT kepada kita seperti yang telah kami sebutkan bahwa mereka telah melampui Hadharat Asma’, Sifat dan Tajalli dari Zat diri-Nya dan mereka sebagaimana digambarkan Nabi (Shalawat atasa dirinya dan keluarganya) tentang keadaan mereka, dalam sabdanya : “Sesungguhnya para penghuni surga tidaklah tersembunyi Tuhan dari diri mereka dan tidak pula terbatasi dengan tirai-tirai” Mereka semua tidak terbatasi di dalam surga ataupun dari berbagai alam dan hadharat, sebagaiman juga yang telah aku isyaratkan dalam persoalan ini bahwa surga ataupun bukan surga tidaklah menjadi batas bagi Insan Kamil karena mereka berada dalam seluruh bentuk dan manifestasi dan terbebaskan dari berbagai batasan, ruang mauapun waktu sebagaimana penghulu mereka (Allah SWT) akan tetapi mereka bersama-Nya dimanapun dan kapanpun…”

Meskipun demikian Insan Kamil sendiri menurut Qunawi memiliki perbedaan tingkat kesempurnaan. Syaikh Qunawi menjelaskan perbedaan martabat-martabat Insan Kamil dengan menafsirkan peristiwa Mi’raj yang terjadi pada diri Rasulullah Saw :

“Sedangkan tingkatan-tingkatan yang terjadi pada diri manusia sebagaimana yang disaksikan Nabi pada peristiwa Isra’, ketika berada pada langit pertama ia berjumpa dengan Adam …kemudian Isa pada tingkatan kedua, Yusuf (keselamatan atasnya) pada tingkat ketiga, Idris pada tingkat keempat, Harun pada tingkat kelima, Musa pada tingkat keenam, Ibrahim pada tingkat ketujuh, dan atas seluruh mereka keselamatan. Demikianlah kualitas dari para nabi dan pewaris kesempurnaan berbeda-beda dari tingkatan langit yang ada”

Syaikh Qunawi membedakan antara manusia individual dengan manusia sempurna melalui empat kategori :
1. Individu memiliki archetype insan kamil
2. Individu memiliki ruh/nafs
3. Individu memiliki jiwa
4. Individu memiliki jasad (micro)

Sedangkan Insan Kamil mempunyai
1. Architype Allah (Ta’ayyun Awwal)
2. Alam Ruhani
3. Alam Mitsal, yakni alam yang meruhanikan yang jasmani dan menjasmanikan ruhani.
4. Alam semsta (macro)

Sedangkan Posisi insan Kamil digambarkan oleh Shadr al-Din sebagai berikut :

Nikah al-Asma

Dalam proses Tajali, Tuhan memunculkan berbagai keanekaan manifestasi yang menunjukkan terjadinya keanekaan pada nama-nama Tuhan, sebagai berbagai bentuk manifestasi merupakan cerminan dari berbagai nama-nama Tuhan tersebut. Keanekaan nama-nama Tuhan dihasilkan melalui proses perkawinan yang dalam hal ini Syaikh Qunawi seperti juga gurunya, Ibn Arabi menggambarkannya dalam doktrin Nikah al-Asma’.

Dalam doktrin ini Syaikh qunawi membicarakannya dalam bab khusus dari kitabnya Miftah al-Ghaib. Tentang Nikah al-Asma itu sendiri Syaikh qunawi menyebutkan :

“….Sesungguhnya nikah merupakan ketergabungan yang terhasilkan dari nama-nama karena kesadaran Zat Ilahi dalam menampilkan semesta dan ini merupakan sebab penyusunan dan pengkomposisian Ilahi melalui bentuk komposisi, penggabungan dan pemisahan yang diri-nya mengalir dan menyatukan hukum-hukum dari setiap bagian komposisi antara bagian yang satu dengan bagian yang lain…ini merupakan cerminan dari hadirnya bentuk bentuk species”

Karenanya bagi Qunawi penikahan itu tidak hanya terjadi pada tingkatan makhluk semata akan tetapi pada nama-nama Ilahi sehingga melahirkan berbagai nama yang menyebabkan munculnya berbagai bentuk-bentuk dan komposisi-komposisi serta unsur-unsur pada alam semesta.

6. Ittihad al-aqil wa al-Ma’qul

Doktrin Ittihad al-Aqil wa al-Maqul merupakan doktrin epistemology yang menggambarkan kesatuan antara objek dan subjek serta relasi diantara keduanya. Doktrin epistemology spesifik sebenarnya dibicarakan juga oleh para Teolog ataupun Filosof berkenaan dengan ilmu Tuhan terhadap diri-Nya, akan tetapi bagi Syaikh Qunawi doktrin epistemology Ittihad al-Aqil wa al-Ma’qul ini berlaku universal meliputi seluruh bentuk ilmu.
Secara khusus Syaikh Qunawi menjelaskan :

“Ketahuilah bahwa tingkat tertinggi dari derajat ilmu terhadap sesuatu, apapun bentuk objek dan subjeknya, baik objek tersebut tunggal maupun plural, kesemua itu terhasilkan dengan kebersatuan objek dan tidak adanya perubahan objek pada diri subjek karena (jika tidak) merupakan sebab ketidak tahuan terhadap sesuatu tersebut dan penghalang dari sempurnanya pencerapan”

Yang dimaksud Syaikh Qunawi disini bahwa setiap manusia yang melakukan pencerapan terhadap berbagai bentuk objek eksternal, maka objek tersebut tampil dalam wujud mentalnya dalam diri subjek sehingga terjadi kesatuan antara diri subjek sebagai Mudrik dengan objek sebagai Mudrak bagi subjek dan bukan sesuatu bentuk yang diluar diri subjek ataupun sekedar gambaran dari wujud eksternal, karena jika demikian proses pencerapan terhadap objek terjadi maka apa yang ada pada diri subjek berbeda dengan apa yang ada pada diri objek eksternal tersebut dan menyebabkan apa yang dipahami subjek bukanlah hakikat objek sesungguhnya itu sama halnya bahwa subjek tidak memiliki pengetahuan terhadap objek.

Doktrin epistemology yang dikembangkan Syaikh Qunawi ini kemudian mendapat dukungan penuh dengan penjelasan rasional dari Mulla Shadra sebagai seorang fislosof yang berhasil menjembatani jurang antara Filsafat dan Tasawuf.

7. Harakat al-Hubbiyah

Dokrin yang lain yang dikembangkan Syaikh Qunawi bahwa segala sesuatu dalam alam semesta ini bergerak dengan gerakan cinta. Yang dimaksud Syaikh qunawi dengan Gerakan Cinta tidak lain bahwa segala sesuatu bergerak menuju sang kekasih karena pada intinya segala sesuatu bergerak menuju kesempurnaan hakiki yang tidak lain kecuali bergabung dengan Al-Haqq.

Bagi Qunawi gerakan tersebut terjadi karena segala sesuatu yang ada terpancar dari diri Al-Haqq yang pertama kali bertajalli dengan dasar cinta, sebagaimana hadist qudsi yang sangat terkenal dikalangan ahli Tasawuf “Aku adalah permata yang tersembunyi dan Aku mencintai untuk dikenal maka Aku ciptakanlah makhluk-makhluk”.

“Telah nyata melalui gerakan keghaiban yang terjadi berdasarkan rahasia pernikahan yang diikuti oleh berbagai hasil – dari bentuk yang muncul karena kelaziman bukan karena penampakkan- dan Ta’ayun dalam martabat berikutntya merupakan tempat bagi terjadinya gerakan cinta untuk menghasilkan apa yang diinginkan…”

Gerakan Hubbiyah inilah yang melandasi segala sesuatu di alam semesta bergerak sehingga semuanya menampilkan arah gerakan yang sama, menuju kesempurnaan tertinggi yaitu Al-Haqq. Hal ini merupakan bukti kuat bagi penyingkapan diri al-Haqq sebagai hakikat dari segala sesuatu.

E. Penutup

Masih banyak lagi doktrin-doktrin dari ajaran Tasawuf Falsafi Sadr al-Din Qunawi seperti limpahan lautan yang tanpa batas, karenanya tidaklah mungkin menampilkan semuanya dalam karya singkat ini, namun demikian beberapa doktrin yang telah dipaparkan diatas paling tidak dapat memberikan pengantar bagi kita untuk mengarungi lautan luas dari ajaran Sadr al-din al-Qunawi.

Daftar Pustaka

Chittick, William C dan Peter Lamborn Wilson, Fakhruddin Iraqi, New York : Paulist Press. 1982
Dhiya’ al-Nur, Fadhlullah. Wahdate Wujud, Intisyarat Zuwor ; Tehran, 1369
Jandi, Muayiddin. Syarh Fusus al-Hikam, Tehran, Donesgoh Tehran ; 1361
Muhammad al-Qunawi, Sadr al-Din. Sadr al-Din Qunawi, I’jaz al-Bayan fi Tafsir Ummil Qur’an’ Majlis Dairah Utsmaniyyah : India, 1404
——-, Miftah al-Ghaib, Intisyarat Mawla ; Tehran 1416
——-, Al-Nafakhhat al-Ilahiyat, Intisyarat Mawla ; Tehran, 1417
——-, Risalat Nusus, Markaze Donesgoh ; Tehran, 1362 (Th. Iran)
——-, Kitab al-Fukuk,Intisyarat Mawla ; Tehran 1413
Rahimiyyon, Sa’id. Tajalli Va Zhuhur, Daftar Tablighote Islomi ; Qom, 1376 (Th Iran)
Schuon, Fritjhof. Mencari Titik Temu Agama-Agama, Yayasan Obor ; Jakarta, 2003

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s