IBNU RUSH

RASIONALITAS IBN RUSHD PERLU, TAPI TAK MEMADAI

By: Husain Heriyanto

Abu’l Walid Muhammad ibn Rushd al-Qurtubi (1126-1198), yang lebih dikenal dengan nama Ibn Rushd atau Averroes di dunia Barat, memiliki beberapa posisi unik dalam sejarah filsafat Islam.

Pertama, dia adalah filsuf Islam asal Andalusia yang mungkin cuma satu-satunya di wilayah ini yang setenar dengannya; Ibn Bajjah dan Ibn Thufail adalah dua filsuf lain asal Andalusia tapi kurang berpengaruh seperti Ibn Rushd.

Kedua, dia kerap dijadikan tapal batas akhir perjalanan filsafat Islam klasik dalam karya-karya Barat atau sarjana Muslim yang terpengaruh oleh sarjana Barat. Seakan-akan sesudah Ibn Rushd filsafat Islam mati. Padahal, kenyataannya, menurut Seyyed Hossein Nasr, filsafat Islam justru mulai menunjukkan keotentikan dan kekayaan pemikiran Islam pasca Ibn Rush dengan lahirnya mazhab Isfahan Mir Damad dan Filsafat Hikmah/Transendental (hikmah muta’aliyah) Mulla Shadra.

Ketiga, dia tampil sebagai pembela gigih filsafat dan rasionalitas Islam setelah sejumlah teolog Asy’ariyyah seperti al-Ghazali dan Fakhruddin al-Razi menghujat keras sejumlah isu pokok dalam filsafat Islam. Dia menulis Tahafut al-Tahafut untuk menjawab dan mengklarifikasi 20 isu filosofis yang dibidik oleh Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah.

Keempat, terkait erat dengan poin ketiga di muka, Ibn Rushd mencoba membangun argumen keharmonisan akal dan wahyu atau filsafat dan agama (syari’ah) secara umum. Untuk itu dia menulis Fashl al-Maqal (Decisive Treatise) dan Al-Kasyf ‘an Manahij al-Adilla fi ‘Aqa’id al-Milla (Discovery of the Methods of the Proofs). Menurut para sarjana, kedua karya ini bersama Tahafut al-Tahafut merupakan trilogi pemikiran filosofis Ibn Rushd.

Kitab Fashl al-Maqal yang diterjemahkan oleh George F. Hourani menjadi On The Harmony of Religion and Philosophy (1976) berisi penjelasan bagaimana filsafat sesungguhnya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam, termasuk dengan syari’ah. Bahkan, menurut Ibn Rushd, Al-Quran bukan saja tidak melarang namun justru menyuruh atau setidaknya menganjurkan umat Islam untuk menekuni studi filsafat jika ia memiliki kemampuan intelektual yang demonstratif. Bukankah Allah menyuruh kita melakukan i’tibar dan tafakur terhadap maujud di alam raya ini yang bermuara kepada renungan kepada Sumber semua maujud ciptaan? Demikian uraian Ibn Rushd.

Sedangkan kitab Al-Kasyf ‘an Manahij al-Adill, yang diterjemahkan oleh Ibrahim Najjar dengan Faith and Reason in Islam (2001), membahas lima tema pokok, yaitu: pembuktian eksistens Tuhan, keesaan Tuhan, sifat-sifat Tuhan, pengetahuan transendental, dan pengetahuan tentang tindakan Tuhan, yang terbagi ke dalam lima sub-tema, yaitu penciptaan alam semesta, pentingnya kenabian, ketentuan dan takdir Tuhan, keadilan dan ‘ketidakadilan’ Tuhan, dan hari akhirat.

Kelima, Ibn Rushd adalah komentator Aristoteles yang mengikuti metoda dan logika Aristotelean dalam uraian-uraian filosofisnya. Bahkan dia merasa perlu melakukan apa yang disebut “Purifications of Aristotle’s Thought” karena dia menuding Ibn Sina telah menafsirkan Aristoteles dengan sistem pemikirannya sendiri.

Keenam, mungkin perlu juga kita sebutkan bahwa Ibn Rushd telah digunakan sebagai sandaran bagi gerakan rasionalitas di dunia Islam hari ini, bahkan gerakan liberal Islam pun mengacu kepada tokoh ini. Di satu sisi, tentu mereka berhak dan beralasan untuk mengusung filsafat Ibn Rushd sebagai pijakan filosofis bagi gerakan rasionalisme liberal mereka. Tapi, di lain sisi, mereka juga perlu menyadari beberapa hal: (i) Ibn Rushd sama sekali tidak menafikan syari’ah; (ii) Meski sangat penting, tapi rasionalitas ibn Rushd ala Aristotelean memiliki kelemahan-kelemahan mendasar, yang tidak saja para filsuf Muslim sudah membahasnya, tapi bahkan pemikiran dan sains modern pun sudah menunjukkan sejumlah kelemahan metafisika Aristotelean; (iii) Masalah umat Islam tidak melulu rasionalitas dalam pengertian sempit tapi juga terkait dengan moralitas dan krisis spiritualitas, yang harus dicari jawabannya. Sayangnya, rasionalitas Ibn Rushd-Aristotelean itu tidak memadai menjawab persoalan-persoalan umat Islam atau umat manusia secara umum yang terjadi di dunia kontemporer.

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s