MUKTAZILAH

MUKTAZILAH

 

Aliran Mu’taziliyah (i’tazala anna; “memisahkan diri”) muncul di Basra, Irak, pada abad 2 H. Kelahirannya bermula dari tindakan Wasil bin Atha’ (700-750 M) berpisah dari gurunya Imam Hasan al-Bashri karena perbedaan pendapat. Wasil bin Atha’ berpendapat bahwa muslim berdosa besar bukan mukmin bukan kafir yang berarti ia fasik.

Wasil bin Atha’ berpendapat mukmin berdosa besar masih berstatus mukmin.

Daftar isi

Ajaran utama

Ajaran Mu’taziliyah kurang diterima oleh kebanyakan ulama Sunni karena aliran ini beranggapan bahwa akal manusia lebih baik dibandingkan tradisi. Oleh karena itu, penganut aliran ini cenderung menginterpretasikan ayat-ayat Al Qur’an secara lebih bebas dibanding kebanyakan umat muslim. Mu’taziliyah memiliki lima ajaran utama yang disebut ushul al-khamsah, yakni :

  1. Tauhid. Mereka berpendapat :
  • Sifat Allah ialah dzatNya itu sendiri.
  • al-Qur’an ialah makhluk.
  • Allah di alam akhirat kelak tak terlihat mata manusia. Yang terjangkau mata manusia bukanlah Ia.
  1. Keadilan-Nya. Mereka berpendapat bahwa Allah SWT akan memberi imbalan pada manusia sesuai perbuatannya.
  2. Janji dan ancaman. Mereka berpendapat Allah takkan ingkar janji: memberi pahala pada muslimin yang baik dan memberi siksa pada muslimin yang jahat.
  3. Posisi di antara 2 posisi. Ini dicetuskan Wasil bin Atha’ yang membuatnya berpisah dari gurunya, bahwa mukmin berdosa besar, statusnya di antara mukmin dan kafir, yakni fasik.
  4. Amar ma’ruf (tuntutan berbuat baik) dan nahi munkar (mencegah perbuatan yang tercela). Ini lebih banyak berkaitan dengan hukum/fikih.

Aliran Mu’taziliyah berpendapat dalam masalah qada dan qadar, bahwa manusia sendirilah yang menciptakan perbuatannya. Manusia dihisab berdasarkan perbuatannya, sebab ia sendirilah yang menciptakannya.

Sejarah

Pada saat Imam Hasan al-Basri sedang mengajar di mesjid, ada seseorang bertanya tentang para pendosa, apakah masih beriman atau telah kafir. Beliaupun diam sejenak untuk berfikir. Saat itulah Wasil bin Atha’ menjawab bahwa para pendosa berada di antara mu’min dan kafir. Kemudian ia membentuk jemaah baru di sudut lain mesjid. Imam Hasan al-Basri berkata “Ia telah i’tizal(mengasingkan diri) dari kita. Jadi mu’tazilah adalah orang yang mengasingkan diri dari Imam Hasan al-Basri, sesuai dengan perkataan beliau tersebut

Tokoh Mu’taziliyah

Tokoh-tokoh Mu’taziliyah yang terkenal ialah :

  1. Wasil bin Atha’, lahir di Madinah, pelopor ajaran ini.
  2. Abu Huzail al-Allaf (751-849 M), penyusun 5 ajaran pokoq Mu’taziliyah.
  3. an-Nazzam, murid Abu Huzail al-Allaf.
  4. Abu ‘Ali Muhammad bin ‘Abdul Wahab/al-Jubba’i (849-915 M).

Meski kini Mu’taziliyah tiada lagi, namun pemikiran rasionalnya sering digali cendekiawan Muslim dan nonmuslim.

 

 

Siapa sebenarnya Muktazilah? Apa dan bagaimana ciri khasnya? 

Muktazilah (mu‘tazilah) secara harfiah  berarti kelompok yang terisolir (i‘tizâl).1 Secara terminologis, pendapat yang paling masyhur dan kuat menyatakan bahwa istilah mu‘tazilah (muktazilah) digunakan untuk menyebut Washil bin ‘Atha’ dan para pengikutnya yang diisolir oleh gurunya, Hasan al-Bashri, akibat isu al-manzilah bayn al-manzilatayn.2 Muktazilah kadangkala disebut dengan Qadariah, karena isu al-qadr yang dikemukakan oleh mazhab ini.3 

Dalam dua versi laporan Ibn al-Nadim dikatakan: Pertama, Muktazilah adalah sebutan yang diberikan oleh pengikut Hasan al-Bashri kepada Washil.4 Laporan ini populer di kalangan  Ahlus Sunnah, seperti yang ditulis al-Baghdadi.5 Kedua, Muktazilah adalah sebutan yang digunakan setelah zaman Hasan al-Bashri, tepatnya oleh Qatadah (w. 117 H/738 M) untuk menyebut Amr bin Ubaid dan para pengikutnya. Amr menyatakan kepada para pengikutnya, bahwa kata i‘tizâl telah digunakan dalam al-Quran sebagai sifat yang dipuji oleh Allah sehingga nama ini mereka terima. Laporan yang terakhir inilah yang diterima oleh sumber Muktazilah, seperti yang tampak dalam statemen Abd al-Jabbar, dalam An-Nasysyâr, “Setiap kata  al-i‘tizâl yang dinyatakan dalam al-Quran maksudnya adalah melepaskan diri dari kebatilan sehingga secara pasti dapat diketahui, bahwa kata al-i‘tizâl ini adalah terpuji (baik).

Al-Baghdadi kemudian membagi Muktazilah menjadi dua puluh dua aliran: (1) Washiliyah; (2) Amrawiyah; (3) Hudhayliyah; (4) Nazzamiyyah; (5) Aswariyah; (6) Ma‘mariyah; (7) Iskafiyah; (8) Ja‘fariyah; (9) Bisyriyyah; (10) Murdariyyah; (11) Hisyamiyyah; (12) Thumamiyah; (13) Jahiziyah; (14) Khabitiyah; (15) Himariyah; (16) Khayatiyah; (17) Murisiyah; (18) Syahammiyah; (19) Ka‘biyah; (20) Jubba’iyah; (21) Basyamiyah; (22) Shalihiyah. Dua dari aliran tersebut, menurut al-Baghdadi, merupakan kelompok  ekstrem. Mereka adalah Khabitiyah dan Himariyah. Adapun dua puluh yang lain adalah Qadariyah murni.7 

Secara umum, menurut al-Khayyath (w. 298 H), kelompok tersebut belum layak disebut Muktazilah jika tidak memenuhi lima prinsip pokok. Lima prinsip pokok tersebut, yang dikenal dengan ushul al-khamsah, adalah: tawhîd; al-‘adl (keadilan); al-wa‘d wa al-wa‘îd (janji dan ancaman); al-manzilah bayn al-manzilatayn (kedudukan di antara dua kedudukan); dan al-amr bi al-ma‘rûf wa al-nahy ‘an al-munkar (amar makruf dan nahi mungkar).8

Secara detail, pandangan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

1.   Tauhid: Allah Swt. adalah Zat Yang Mahaesa, Qadîm (Mahadulu), sementara selain Dia adalah baru (muhdats). Dari sini maka zat dan sifat Allah harus sama-sama Qadîm, yakni  hanya satu; tidak terpisah satu sama lain. Sebab, kalau tidak, pasti akan ada dua yang Qadîm, yaitu zat dan sifat. Padahal, yang Qadîm harus satu, dan itulah Allah.9 

2.   Keadilan: seluruh perbuatan Allah adalah baik dan adil. Allah tidak akan melakukan perbuatan buruk dan zalim.10 Karena itulah, mereka menafikan qadar. Mereka menyatakan bahwa manusia bebas melakukan apa saja sesuai dengan kehendaknya (hurriyah al-iradah) dan dia akan bertanggung jawab di hadapan Allah kelak.11 

3.   Janji dan ancaman: Allah Maha Menepati janji dan ancaman-Nya. Janji berkaitan dengan kebaikan, seperti pahala dan surga, sedangkan ancaman berkaitan dengan keburukan, seperti dosa dan neraka.12 

4.   Manzilah bayn manzilatayn (status di antara dua kedudukan): Orang yang melakukan dosa besar tidak boleh disebut Mukmin atau kafir, tetapi fasik. Karena itu, status fasik merupakan kedudukan ketiga, di luar konteks iman dan kufur.13

5.   Amar makruf nahi mungkar:  Amar makruf nahi mungkar adalah kewajiban; masing-masing sesuai dengan kadar kemampuannya; bisa dengan senjata dan non-fisik. Jika dengan senjata maka di situlah hukum jihad berlaku.14

Inilah beberapa pandangan (maqâlât) yang mereka sepakati. Selain itu, pandangan mereka berbeda-beda. Mengenai para tokohnya, antara lain, adalah Ghaylan ad-Dimasyqi dan Washil bin Atha’. Ghaylan terkenal dengan pandangannya tentang al-qadr, sedangkan Washil terkenal dengan pandangannya tentang al-manzilah bayn al-manzilatayn. Abu Hudhail al-‘Allaf dengan muridnya dan Basyar bin al-Mu‘tamir terkenal dengan konsepnya mengenai tawallud.15 Tokoh lain adalah Abu Ali al-Jubba’i dan al-Khayyath penulis buku al-Intishâr. Tokoh Muktazilah yang terakhir adalah ‘Abd al-Jabbar, murid Abu Hasyim al-Jubba’i, anak Ali al-Jubba’i.16

Selain beberapa pandangan di atas, hal lain yang paling menonjol adalah penggunaan akal sehingga muncul kesan seolah-olah Muktazilah adalah kelompok yang mendewakan akal. Padahal, dalam kasus ini, bisa dikatakan semua ahli kalam menggunakan akal. Bahkan, dalam kasus ini tidak bisa dipilah lagi, mana Muktazilah, Jabariah dan Ahlus Sunnah. Inilah secara umum tentang potret Muktazilah sebagai mazhab akidah.

Dari sini, jelas bahwa Hizbut Tahrir berbeda dengan Muktazilah. Pertama: dalam konteks tauhid, khususnya yang terkait dengan sifat dan zat Allah. Hizbut Tahrir berpandangan, bahwa persoalan sifat dan zat Allah tidak bisa dikatakan satu, yakni sifat dan zat-Nya adalah sama; atau dikatakan berbeda, yakni sifat dan zat (mawshûf)-Nya jelas tidak sama, sebagaimana pendapat mazhab Ahlus  Sunnah. Yang benar menurut Hizb, persoalan ini tidak perlu dibahas, karena masing-masing sama-sama berangkat dari asumsi yang dibangun berdasarkan logika mantik, bukan fakta yang sesungguhnya, sementara ‘fakta’ tentang Allah  jelas tidak bisa dijangkau oleh akal manusia. Karena itu, pembahasan tentang zat dan sifat Allah harus dihentikan, dengan kata lain, tidak perlu dibahas.

Kedua: dalam konteks keadilan Allah, yang berujung pada hurriyah al-irâdah, tawallud, dan sebagainya, Hizbut Tahrir justru telah mampu mendudukkan persoalan tersebut dengan tepat dan akurat. Pertama-tama, yang harus dijadikan sebagai obyek pembahasan adalah perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah. Setelah itu, diketahui bahwa perbuatan manusia itu ternyata ada dua: mujbar (dipaksa) dan mukhayyar (tanpa paksaan). Dalam konteks yang pertama, di situlah wilayah Qadha’ Allah, sedangkan yang kedua tidak. Pada wilayah yang kedua itulah, manusia bebas menentukan pilihannya, dan karenanya kemudian dia akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Meski demikian, dalam konteks yang pertama dan kedua, perbuatan manusia selalu terikat dengan sesuatu berikut khashiyah-nya, di situlah wilayah Qadar, dalam konteks Qadha’ dan Qadar, dimana baik dan buruknya bersumber dari Allah.

Ketiga: masalah manzilah bayna manzilatayn yang sesungguhnya merupakan kongklusi logika mantik, dalam logika Hizb, tidak akan pernah ada dan dibahas, karena memang merupakan sesuatu yang tidak bisa dibahas oleh akal manusia.

Keempat: tentang pengagungan akal, justru Hizbut Tahrirlah yang mampu merumuskan batasan akal dengan tepat. Persoalan ini notabene belum mampu dilakukan oleh Muktazilah, Jabariah maupun Ahlus Sunnah. Akibatnya, mazhab-mazhab tersebut terjebak dalam perdebatan yang tak berujung, termasuk tentang sifat Allah, serta Qadha’ dan Qadar.

Catatan Kaki:

1   Ibn Manzhur, Lisân, XI/440.

2   Al-Syahrastani, Al-Milal, hlm. 22; al-Jurjani, At-Ta‘rîfât, hlm. 282.

3   Al-Baghdadi, Al-Farq, hlm. 131; asy-Syahrastani, Ibid, hlm. 22.

4   Ibn al-Nadîm, Al-Fihrist, hlm. 282.

5   Al-Baghdâdi, Al-Farq, hlm. 40-41.

6   Al-Nasysyâr, Al-Nasy’ah, I/379.

7   Al-Baghdadi, Ibid, hlm. 131.

8   Al-Khayyath, Al-Intishâr, 12; al-Mas’udi, Murûj adz-Dzahab, VI/23;  ‘Abd al-Jabbar, Syarh al-Ushûl, hlm. 125-126.

9   Lebih jelas, lihat: ‘Abd al-Jabbar, Syarh al-Ushûl, hlm. 128-129 dan 131.

10  Abd al-Jabbâr, Syarh al-Ushûl, hlm. 133.

11  Al-Khayyath, al-Intishâr, hlm. 13.

12  Ibid, hlm. 134-135.

13  Abd al-Jabbar, Syarh al-Ushûl, hlm. 39-140; al-Khayyath, Al-Intishâr, hlm. 13.

14  Ibid, hlm. 141.

15  Lebih jelas, lihat: ‘Abd al-Jabbar, Syarh, hlm. 424; Ibn al-Nadim, Al-Fihrist, hlm. 286-287; al-Asy‘ari, Maqâlât, II/87-88.

16 Keterangan ini sebagaimana ditulis oleh ‘Adnan Muhammad Zarzur, dosen Universitas Damaskus, Syiria, editor buku Mutasyâbih al-Qur’ân, karya ‘Abd al-Jabbar. Lihat:  ‘Abd al-Jabbar, Mutasyâbih, hlm. 14.

 

 

 

 

Dua aliran Muktazilah:

Muktazilah Baghdad dan Muktazilah Bashrah  , ulama dan keyakinan-keyakinan mereka

 

 

Muktazilah merupakan salah satu mazhab yang mendukung rasionalisme dalam beragama. Sikap ini memunculkan perubahan pemikiran pada masyarakat ketika itu. Meski mereka sepakat dalam masalah lima prinsip (al-ushûl al-khamsah) agama namun tetap saja terdapat perbedaan pendapat di antara mereka. Perbedaan semacam ini telah menyebabkan munculnya banyak aliran dalam mazhab Muktazilah. Dan bahkan terkadang salah seorang ulama yang mendirikan sebuah aliran dalam mazhab Muktazilah yang diberi nama sama dengan nama alim tersebut.
Aliran yang paling penting dalam mazhab Muktazilah terbagi menjadi kelompok aliran yaitu aliran Bashrah dan aliran Baghdad. Pembagian aliran ini menyinggung tentang dua madrasah secara geografis pada dua kota Baghdad dan Bashrah.
Salah satu sebab terpenting munculnya dua aliran dalam mazhab Muktazilah adalah adanya perbedaan politik yang sangat berpengaruh dalam keyakinan dua kelompok ini.
Ghalibnya pemeluk mazhab Muktazilah, di samping pandangan-pandangan ideologis yang mereka miliki, mereka juga memiliki pandangan dalam masalah politik. Prinsip amar makruf dan nahi mungkar mengkondisikan mereka  untuk tidak bersikap diam dalam masalah politik dan menyatakan keyakinan mereka.
Sebagai contoh Washil bin Atha, terkait dengan perang Jamal dan Shiffin yang memecah dua barisan kelompok Muslim, meyakini bahwa salah dari dua kelompok yang bertikai berada pada pihak yang salah (tanpa diketahui kelompok yang mana).
Adapun sekaitan dengan keyakinan-keyakinan dua kelompok ini, kita tidak memiliki literatur yang banyak dan pada umumnya keyakinan mereka disebutkan pada literatur-literatur Muktazilah dan dinukil darinya. Pada jawaban detil, keyakinan-keyakinan ini akan disinggung secara selintasan.

Jawaban Detil

Muktazilah adalah salah satu aliran pemikiran yang menggandrungi pemikiran-pemikiran rasional. Para pemeluk mazhab ini berusaha memadukan antara akal dan agama.[1]
Untuk menjelaskan batasan mazhabnya, mereka menetapkan sebuah prinsip (ushûl) dan siapa saja yang tidak berpegang pada lima prinsip (al-ushûl al-khamsah) mazhab Muktazilah ini maka ia tidak tergolong sebagai pemeluk mazhab Muktazilah.
Atas dasar itu, seluruh penganut ajaran Muktazilah apa pun kecendrungan dan pemikirannya harus berpegang pada lima prinsip berikut ini:
1.             Tauhid
2.             Keadilan
3.             Wa’d (janji baik) dan Wa’id (janji buruk)
4.             Tempat di antara dua tempat (Manzil baina manzilatain)
5.             Amar makruf dan nahi mungkar
Untuk telaah lebih jauh dalam hal ini kami persilahkan Anda untuk merujuk pada indeks: Prinsip-Prinsip Akidah Muktazilah, Pertanyaan 8864.
Meski demikian, mereka memiliki juga perbedaan dalam sikap dalam mengikuti argumen-argumen rasional yang mereka bangun. Hal ini telah menyebabkan munculnya akidah-akidah yang berbeda dan bahkan terkadang saling bertentangan. Perbedaan ini telah menjadi faktor munculnya ragam aliran dan kelompok dalam mazhab Muktazilah.
Salah satu aliran dan kelompok yang penting dalam mazhab adalah pembagian yang mereka lakukan menjadi dua madrasah mengikut letak geografis dengan nama madrasah Bashrah dan madrasah Baghdad.
Kota Bashrah adalah salah satu kota dimana Muktazilah berdiri pada awal abad kedua Hijriah. Pendiri madrasah ini dapat disebut sebagai bapak pendiri mazhab Muktazilah yang pada umumnya para pemeluk mazhab Muktazilah memandang Washil bin Atha. Muktazilah berdiri di kota ini dan bahkan dapat dikatakan bahwa masa baligh dan berseminya Muktazilah bermula dari kota ini.
Madrasah Baghdad juga muncul pada akhir abad kedua Hijriah. Madrasah ini didirikan oleh seorang bernama Bisyr bin Mu’tamir. Ia belajar ajaran Muktazilah pada Bisyrin bin Abu Utsman Zafarani yang merupakan salah seorang sahabat Washil bin Atha.[2] Kemudian ia hijrah ke Baghdad dan mendirikan madrasah (Muktazilah) Baghdad dan mengajak warga sekitar untuk masuk  memeluk aliran ini. Orang-orang menyebutkan bahwa ia adalah salah seorang guru besar dalam bidang syair.[3]
Kita tidak memiliki banyak literatur yang menyebutkan alasan terkait dengan faktor apa yang menyebabkan terpisahnya dua kelompok ini dan membuat sebagian penganut mazhab Muktazilah meninggalkan Bashrah menuju Baghdad. Namun sebab-sebab ini dapat dipahami melalui teks-teks yang ada yang membahas tentang mazhab Muktazilah.
Namun secara pasti, salah satu faktor terpenting terpisahkan dua kelompok penganut mazhab Muktazilah adalah perbedaan pandangan politik yang sangat berpengaruh dalam keyakinan dua aliran Muktazilah ini.
Pada umumnya, penganut mazhab Muktazilah di samping pandangan-pandangan ideologis dan keyakinan-keyakinan yang mereka anut, mereka juga memiliki pandangan yang berbeda-beda dalam masalah-masalah politik. Prinsip amar makruf dan nahi mungkar mengkondisikan mereka  untuk tidak bersikap diam dalam masalah politik dan menyatakan keyakinan mereka.
Sebagai contoh Washil bin Atha, sehubungan dengan perang Jamal dan Shiffin yang memecah dua barisan kelompok Muslim, meyakini bahwa salah dari dua kelompok yang bertikai berada pada pihak yang salah (tanpa kita diketahui kelompok yang mana).[4]
Pandangan ini dan pandangan-pandangan semisalnya bagi para pengikut mazhab Muktazilah tidak dapat menerima Ali bin Abi Thalib As berada di pihak yang salah. Sebagian mereka berpandangan bahwa mustahil Ali bin Abi Thalib As berada di pihak yang sesat dari dua kelompok yang bertikai pada perang Shiffin. Hal ini telah menyebabkan munculnya perbedaan pendapat yang tajam dan memiliki saham penting atas terpisahnya dua aliran mazhab Muktazilah ini.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa kecendrungan Syiah yang terdapat pada Muktazilah Baghdad lebih tinggi dan dominan ketimbang Muktazilah Bashrah sedemikian sehingga disebutkan bahwa Ja’farain dan Iskafi merupakan pengikut mazhab Syiah Zaidiyah.[5]
Namun klaim bahwa perbedaan dua aliran ini hanya berdasarkan masalah politik dan segala sesuatu yang berkenaan dengan masalah politik adalah klaim yang tidak berdasar bahkan hal ini merupakan salah satu dalil yang menyebabkan terpecahnya dua kelompok Muktazilah ini. Setelah itu, dua kelompok ini banyak menjumpai ikhtilaf dalam masalah-masalah istinbâth (inferensi) hukum mereka.
Masing-masing dari dua aliran ini berusaha dalam merealisasikan tujuan-tujuannya dan hal ini telah menyebabkan tersebarnya dua aliran dan madrasah ini. Masing-masing memiliki ulama-ulama yang terkenal yang akan kita singgung secara ringkas sebagaimana berikut:
Bashrah sebagai sentral berdirinya mazhab Muktazilah banyak memiliki ulama. Washil bin Atha sebagai pendiri mazhab ini merupakan salah satu pilar ulama Muktazilah Bashrah. Abu Hudzail dan Nazzham merupakan dua tokoh besar Muktazilah Bashrah yang banyak mengangkat masalah-masalah baru dalam pembahasan-pembahasan teologis. Ibad bin Sulaiman juga merupakan salah seorang pembesar Muktazilah. Abu Ali Jubbai dan putranya Abu Hasyim yang lebih dikenal dengan gelar Syaikhahin merupakan ulama-ulama Muktazilah belakangan. Keduanya telah meniupkan semangat baru dalam pembahasan-pembahasan teologis.
Madrasah Baghdad juga memiliki ulama-ulama terkenal. Bisyr bin Mu’tamir yang merupakan bapak pendiri madrasah Baghdad menyebutkan dua ribu syair dan membantah para penentangnya dalam dua ribu syair tersebut. Abu Musa Muradi juga merupakan salah satu ulama besar yang terkenal dengan ibadah dan banyak orang menjulukinya sebagai Rahib Muktazilah. Dan murid-murid unggul lainnya seperti Jafar bin Harb dan Ja’far bin Mubasyyir yang umumnya disebut sebagai Ja’fariyain dan demikian juga alim terkemuka lainnya misalnya Abu Ja’far Iskafi yang disebutkan memiliki sembilan puluh karya dalam ilmu Kalam (Teologi).[6]
Adapun terkait dengan keyakinan-keyakinan dua aliran Muktazilah ini kita tidak memiliki banyak literatur dan pada umumnya keyakinan-keyakinan mereka disebutkan dalam literatur-literatur non-Muktazilah dan disebutkan dari literature-literatur tersebut dan kita akan mencukupkan diri dengan menyebutkan sebagiannya di sini:
Abu Hudzail Allaf yang merupakan salah satu ulama bear Muktazilah Bashrah menolak konsep sifat yang berbeda dari zat Allah Swt. Pendapat ini kemudian menjadi pusat perhatian seluruh pengikut Muktazilah. Meski terdapat banyak perbedaan di antara mereka terkait dengan penyifatan zat terhadap sifat ini.
Ibrahim Nazzham juga meyakini bahwa Allah Swt tidak dapat melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kemaslahatan pada hamba-Nya. Manusia adalah ruh (itu sendiri) dan ruh adalah benda lunak (latif) yang berada dalam benda katsif (padat) ini. Dan bahwa Allah Swt mencipta seluruh entitas pada satu waktu dan penciptaan Adam tidak mendahului penciptaan anak-anaknya.
Bisyr bin Mu’tamir sebagai pendiri Muktazilah Baghdad juga memiliki beberapa keyakinan meski keyakinan-keyakinan ini tidak diterima oleh kebanyakan warga Bashrah. Misalnya keyakinan bahwa Allah Swt tidak bersahabat dengan orang beriman ketika ia beriman dan tidak membenci orang kafir dalam kekafirannya. Atau apabila Allah Swt bersikap pemurah kepada orang-orang kafir maka mereka pasti beriman kepada-Nya. Bagi orang-orang berakal, alangkah baiknya Allah Swt menempatkan orang-orang berakal pada mulanya di surga dan memuliakan mereka berkat masalah ini.[7]
Ja’far bin Mubassyir salah seorang ulama besar Muktazilah Baghdad meyakini bahwa, “Akal menghukumi bahwa pendosa dalam azab neraka (berbeda dengan pandangan orang-orang yang memandang bahwa hukum ini adalah sesuai dengan tuntutan syariat bukan akal).[8] Seseorang yang mencuri satu biji atau kurang dari satu biji maka ia akan selamanya berada dalam neraka.”[9]
Ulama Muktazilah Baghdad seperti Jafar bin Harb dan Ja’far bin Mubassyir serta Iskafi berusaha mengembalikan sikap-sikap Muktazilah hingga pada batasan tertentu keyakinan mazhabnya. Mereka meyakini kebenaran Imam Ali As dan kesalahan Thalha, Zubair dan Aisyah.[10]
Mereka juga meyakini bahwa Ali As lebih utama setelah Rasulullah Saw meski Abu Hudzail meyakini terhadap kesamaan kedudukan antara Ali dan Abu Bakar.[11]
Harap diperhatikan bahwa pembagian aliran menjadi aliran Muktazilah Bashrah dan Muktazilah Baghdad dewasa ini kehilangan batas demarkasi geografisnya dan sekarang ini berubah menjadi semata-mata sebuah terminologi.[12]
Terdapat pembagian lain terkait dengan mazhab Muktazilah yang ada baiknya kita singgung tentang hal tersebut sebagaimana berikut:
Berdasarkan tingkatan, terdapat pembagian yang dilakukan Muktazilah belakangan.  Qadhi Abduljabbar membagi Muktazilah menjadi sepuluh tingkatan. Para khalifah sebagai tingkatan pertama. Hasan bin Ali, Husain bin Ali As dan Muhammad bin Hanafiyah sebagai tingkatan kedua. Tingkatan ketiga, Washil bin Atha dan tingkatan keempat Amru bin Ubaid dan lain sebagianya. Akan tetapi pembagian setelahnya mengalami perubahan.[13] Muktazilah demikian juga terbagi menjadi masa lalu dan masa kontemporer. Pada masa-masa lalu bermula semenjak berdirinya mazhab ini hingga masa Mutawakkil Abbasi pada tahun 234 H – 848 H.[14]
Mutawakkil berbeda dengan para penguasa Bani Abbasiyah sebelumnya, tidak hanya berlaku buruk kepada para penganut mazhab Muktaizlah bahkan dengan paksaan dan desakan mencegah tersebarnya akidah Muktazilah dan bahkan mengusir pengikut mazhab Muktazilah.[15] Hingga beberapa dekade belakangan (pasca Mutawakkil), Muktazilah dapat menghirup udara baru dimana periode akhir Muktazilah bermula pada masa itu. [iQuest]

 


[1]. Untuk telaah dan mengenal lebih jauh silahkan lihat, “Ragam Pendapat ihwal Berdirinya Muktazilah dan Pengaruhnya” Jawaban No. 8688 yang terdapat pada site ini.

[2]. Mahdi Farmaniyan, Furuq Tasannun, hal. 311, Nasyr Adyan, 1386, Qum.

[3]. Muhammad Ibrahim Fayumi, al-Mu’tazilah Takwin al-‘Aql al-‘Arabi, hal. 338, Dar al-Fikr al-‘Arabi, 2002, Kairo.

[4]. Ahmad Syauqi al-‘Umraji, Al-Mu’tazilah fi Baghdâd wa Âtsâruhum fi al-Hayât al-Fikriyah wa al-Siyasiyah, hal. 149, Maktab Madbuli, 2002, Kairo.

[5]. Al-Mu’tazilah Takwin al-‘Aql al-‘Arabi, hal. 353.

[6]. Ibid, hal. 135.

[7]. Ja’far Subhani, Buhûts fi al-Milal wa al-Nihal, hal. 263, al-Dar al-Islamiyah, Beirut.

[8]. Ibid, hal. 356.

[9]. Ibid, hal. 364.

[10]. Al-Mu’tazilah Takwin al-‘Aql al-‘Arabi, hal. 353.

[11]. Ibid, hal. 339.

[12]. Furuq Tasannun, hal. 316.

[13]. Buhuts fi al-Milal wa al-Nihal, hal. 305.

[14]Furuq Tasannun, hal. 315.

[15]. Al-Mu’tazilah fi Baghdâd wa Âtsâruhum fi al-Hayât al-Fikriyah wa al-Siyasiyah, hal. 78.

 

 

 

AL-ASY’ARIYAH VS MUKTAZILAH

Beliau bernama `Ali bin Isma`il bin Abi Bisyr Ishaq bin Salim bin Isma`il bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Burdah bin Musa Al Asy`ary, lebih dikenal dengan Abu Al Hasan Al Asy`ary. Dilahirkan pada tahun 260 Hijriyah atau 875 Masehi, pada akhir masa daulah Abbasiyah yang waktu itu berkembang pesat berbagai aliran ilmu kalam, seperti : al Jahmiyah, al Qadariyah, al Khawarij, al  Karamiyah, ar Rafidhah, al Mu`tazilah, al Qaramithah dan lain sebagainya.

Sejak kecil Abul Hasan telah yatim. Kemudian ibunya menikah dengan seorang tokoh Mu`tazilah bernama Abu `Ali Al Jubba`i. Beliau (Abul Hasan) seorang yang cerdas, hafal Al Qur`an pada usia belasan tahun dan banyak pula belajar hadits. Pada akhirnya beliau berjumpa dengan ulama salaf bernama al Barbahari (wafat 329 H). inilah yang akhirnya merubah jalan hidupnya sampai beliau wafat pada tahun 324 H atau 939 M dalam usia 64 tahun.

Abu al Hasan al Asy`ary dan Mu`tazilah

Pada mulanya, selama hampir 40 tahun, beliau menjadi penganut Mu`tazilah yang setia mengikuti gurunya seorang tokoh Mu`tazilah yang juga ayah tirinya. Namun dengan hidayah Allah setelah beliau banyak merenungkan ayat-ayat Al Qur`an dan hadits-hadits Rasulullah, beliau mulai meragukan terhadap ajaran Mu`tazilah. Apalagi setelah dialog yang terkenal dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh Abu `Ali al Jubba`i dan setelah mimpi beliau bertemu dengan Rasulullah, beliau secara tegas keluar dari Mu`tazilah.

Inti ajaran faham Mu`tazilah adalah dasar keyakinan harus bersumber kepada suatu yang qath`i dan sesuatu yang qath`i harus sesuatu yang masuk akal (rasional). Itulah sebabnya maka kaum Mu`tazilah menolak ajaran al Qur`an apalagi as Sunna yang tidak sesuai dengan akal (yang tidak rasional). Sebagaimana penolakan mereka terhadap mu`jizat para nabi, adanya malaikat, jin dan tidak percaya adanya takdir. Mereka berpendapat bahwa sunnatullah tidak mungkin dapat berubah, sesuai dengan firman Allah:

Tidak akan aa perubahan dalam sunnatillah (Al Ahzab:62; lihat juga Fathir:43 dan Al Fath:23).

Itulah sebabnya mereka tidak percaya adanya mu`jizat, yang dianggapnya tidak rasional. Menurut mereka bila benar ada mu`jizat berarti Allah telah melanggar sunnah-Nya sendiri.

Sudah barang tentu pendapat seperti ini bertentangan dengan apa yang dikajinya dari al Qur`an dan as Sunnah. Bukankah Allah menyatakan bahwa dirinya :

(Allah) melakukan segala apa yang Dia kehendaki (Hud : 107)

untuk kehidupan manusia Allah telah memberikan hukum yang dinmakan sunnatullah dan bersifat tetap. Tetapi bagi Allah berlaku hukum pengecualian, karena sifat-Nya sebagai Pencipta yang Maha Kuasa. Allah adalah Penguasa mutlak. Hukum yang berlaku bagi manusia jelas berbeda dengan hukum yang berlaku bagi Allah. Bukankah Allah dalam mencipta segala sesuatu tidak melalui hukum sunnatullah yang berlaku bagi kehidupan manusia ? Allah telah menciptakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada, menciptakan dari suatu benda mati menjadi benda hidup. Adakah yang dilakukan Allah dapat dinilai secara rasional ?

itulah diantara hal-hal yang dibahas oleh Abu Al-Hasan Al Asy`ary dalam segi aqidah dalam rangka koreksi terhadap faham mu`tazilah, disamping masalah takdir, malaikat dan hal-hal yang termasuk ghaibiyat.

Salah satu dialog beliau dengan Abu Ali Al Jubba`i yang terkenal adalah mengenai, apakah perbuatan Allah dapat diketahui hikmahnya atau di ta`lilkan atau tidakl. Faham Mu`tazilah berpendapat bahwa perbuatan Allah dapat dita`lilkan dan diuraikan hikmahnya. Sedangkan menurut pendapat Ahlus Sunnah tidak. Berikut ini dialog antara Abu Al Hasan dengan Abu Ali al Jubba`I

Al Asy`ary (A) : Bagaimana kedudukan orang mukmin dan orang kafir menurut tuan?

Al Jubba`i (B) : Orang mukmin mendapat tingkat tinggi di dalam surga karena imannya dan orang kafir masuk ke dalam neraka.

A : Bagaimana dengan anak kecil?

B : anak kecil tidak akan masuk neraka

A : dapatkah anak kecil mendapatkan tingkat yang tinggi seperti orang mukmin?

B : tidak, karena tidak pernah berbuat baik

A : kalau demikian anak kecil itu akan memprotes Allah kenapa ia tidak diberi umur panjang untuk berbuat kebaikan

B : Allah akan menjawab, kalau Aku biarkan engkau hidup, engkau akan berbuat kejahatan atau kekafiran sehingga engkau tidak akan selamat.

A : kalau demikian, orang kafir pun akan protes ketika masuk neraka, mengapa Allah tidak mematikannya sewaktu kecil agar selamat dari neraka.

Abu Ali Al Jubba`i tidak dapat menjawab lagi, ternyata akal tidak dapat diandalkan.

Abu al Hasan Al Asy`ary dalam meninjau masalah ini selalu berdasar kepada sunnah Rasulullah. Itulah sebabnya maka madzhab yang dicetuskannya lebih dikenal dengan Ahlus Sunnah wal Jama`ah.

Abu al Hasan al Asy`ary Pencetus Faham Asy`ariyah

Namun karena pengaruh yang cukup dalam dari faham Mu`tazilah, pada mulanya cetudan pendapat Abu al Hasan sedikit banyak dipengaruhi oleh Ilmu Kalam. Keadaan seperti ini sangat dimaklumi karena tantangan yang beliau hadapi adalah kelompok yang selalu berhujjah kepada rasio, maka usaha beliau untuk koreksi terhadap Mu`tazilah juga berusaha dengan memberikan jawaban yang rasional. Setidak-tidaknya beliau berusaha menjelaskan dalil-dalil dari Al Qur`an atau As Sunnah secara rasional. Hal ini dapat dilihat ketika beliau membahas tentang sifat Allah dalam beberapa hal beliau masih menta`wilkan sebagiannya. Beliau menyampaikan pendapatnya tentang adanya sifat Allah yang wajib menurut akal.

Pada mulanya manhaj Abul Hasan Al Asy`ary dalam bidang aqidah menurut pengkuan secara teoritis pertama berdasarkan naqli atau wahyu yang terdiri dari Al Qur`an dan Al Hadits Al Mutawatir, dan kedua berdasarkan akal. Namun dalam prakteknya lebih mendahulukan akal daripada naql. Hal ini terbukti masih menggunakan penta`wilan terhadap ayat-ayat Al Qur`an tentang sifat-sifat Allah, misalnya: yadullah diartikan kekuatan Allah, istiwa-u Llah dikatakan pengasaan dan sebagainya.

Contoh lain misalnya dalam menetapkan dua puluh sifat wajib bagi Allah, diawali dengan menetapkan hanya tiga sifat wajib, kemudian berkembang dalam menyimpulkan menjadi lima sifat, tujuh sifat, dua belas sifat atau dan akhirnya dua puluh sifat atau yang lebih dikenal dengan Dua puluh Sifat Allah. Dari dua puluh sifat itu tujuh diantaranya dikatakan sebagai sifat hakiki sedang tigabelas yang lain sifat majazi. Penetapan sifat hakiki dan majazi adalah berdasarkan rasio.

Dikatakannya, penetapan tujuh sifat hakiki tersebut karena bila Allah tidak memilikinya berarti meniadakan Allah. Ketujuh sifat hakiki tersebut adalah hayyun bihayatin, alimun bi ilmin, qadirun bi qudratin, sami`un bi sam`in, basyirun bi basharin, mutakallimun bi kalamin dan muridun bi iradatin. Sedangkan mengenai tiga belas sifat majazi bila dikatakan sebagai sifat hakiki berarti tasybih atau menyamakan Allah dengan makhluk.

Ketika ditanyakan :Bagaimana menetapkan sifat hakiki tersebut, sedangkan sifat itu secara lafziah sama dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh makhluk? Jawabannya: Sifat-sifat tersebut dari segi lafaz sama dengan makhluk, namun bagi Allah SWT mempunyai arti `maha` sesuai dengan kedudukan Allah yang Maha Kuasa. Kalau demikian seharusnya tidak perlu kawatir dalam menerapkan tiga belas sifat yang lain dengan mengatakannya sebagai sifat hakiki bukan ditetapkan sebagai majazi, dengan pengertian sebagaimana dalam menetapkan tujuh sifat hakiki tersebut diatas, yakni walaupun sifat-sifat Allah dari segi lafaz sama seperti sifat-sifat yang dimiliki oleh manusia, namun sifat itu bila dinisbahkan kepada Allah akan mempunyai arti Maha. Abu Al Hasan Al Asy`ary kembali ke Salaf

Pada akhirnya setelah banyak berdialog dengan seorang bernama Al Barbahari (wafat 329 H), Abul Hasan Al Asy`ary menyadari kekeliruannya dalam pemahaman aqidah terutama dalam menetapkan sifat-sifat Allah dan hal lain tentang ghaibiyat. Empat tahun sebelum beliau wafat beliau mulai menulis buku Al Ibanah fi Ushul Al-Diyanah merupakan buku terakhir beliau sebagai pernyataan kembali kepada faham Islam sesuai dengan tununan salaf. Namun buku ini tidak sempat terbahas secara luas di kalangan umat Islam yang telah terpengaruh oleh pemikiran beliau sebelumnya.

Untuk mengenal lebih jauh tentang kaidah pemikiran beliau di bidang aqidah sesudah beliau kembali ke metode pemikiran salaf yang kemudian lebih dikenal dengan Salafu Ahli As Sunnah wa Al Jama`ah, beliau merumuskannya dalam tiga kaidah sebagai berikut:

1. Memberikan kebebasan mutlak kepada akal sama sekali tidak dapat memberikan pembelaan terhadap agama. Mendudukkan akal seperti ini sama saja dengan merubah aqidah. Bagaimana mungkin aqidah mengenai Allah dapat tegak jika akal bertentangan dengan wahyu.

2. Manusia harus beriman bahwa dalam urusan agama ada hukum yang bersifat taufiqi, artinya akal harus menerima ketentuan wahyu. Tanpa adanya hukum yang bersifat taufiqi maka tidak ada nilai keimanan.

3. Jika terjadi pertentangan antara wahyu dan akal maka wahyu wajib didahulukan dan akal berjalan dibelakang wahyu. Dan sama sekali tidak boleh mensejajarkan akal dengan wahyu apalagi mendahulukan akal atas wahyu. Adapun manhaj Abul Hasan dalam memahami ayat (tafsir) adalah sebagai berikut:

  1. Menafsirkan ayat dengan ayat.
  2. Menafsirkan ayat dengan hadits
  3. Menafsirkan ayat dengan ijma`.
  4. Menafsirkan ayat dengan makna zahir tanpa menta`wilkan kacuali ada dalil.
  5. Menjelaskan bahwa Allah menurunkan Al Quran dalam bahasa Arab, untuk itu dalam memahami Al Quran harus berpegang pada kaidah-kaidah bahasa Arab.
  6. Menafsirkan ayat dengan berpedoman kepada asbabun-nuzul dari ayat tersebut
  7. Menjelaskan bahwa isi ayat Al Quran ada yang umum dan ada yang khusus, kedua-duanya harus ditempatkan pada kedudukannya masing-masing.

Banyak sekali buku-buku karya Abul Hasan Al Asy`ary. Yang ditulis beliau sebelum tahun 320 (sebelum kembali kepada manhaj salaf) lebih dari 60 buku. Sedangkan yang ditulis sesudah tahun 320 hampir mencapai 30 buah buku, diantara yang terakhir ini adalah Al Ibanah fi Ushul Ad Diyanah.

Wallahu A`lam.

Dinukil dari tulisan Abu Ibrahim pada Majalah As Sunnah No.01/Th.I Nov 1992.

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s