METODE PENDIDIKAN ISLAM

 

 

Seorang guru atau pendidik, agar berhasil dalam aktivitas kependidikannya, harus dapat memilih dan menggunakan metode secara tepat. Dalam memilih metode pendidikan ini, ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan, antara lain faktor tujuan dari masing-masing materi pendidikan yang disajikan, Oleh karena itu, seorang pendidik dituntut juga untuk mempelajari metode-metode pendidikan yang ada, dan pandai memilih serta menggunakannya dengan tepat.

Dengan mempelajari al- Quran dan hadits serta pendapat ulama, kita dapat menerapkan beberapa metode pendidikan Islam, antara lain:

1. METODE PENDIDIKAN IBRAH DAN MAU’IZHAH.

2. METODE PENDIDIKAN SURI TELADAN.

3. METODE PENDIDIKAN TARGHIB DAN TARHIB.

4. METODE PENDIDIKAN HISTORIS.

5. METODE PENDIDIKAN MELALUI PERUMPAMAAN.

6. METODE PENDIDIKAN DENGAN TANYA JAWAB.

Untuk lebih jelasnya, masing-masing metode ini akan dijelaskan satu persatu secara terperinci:

  1. 1.    METODE IBRAH DAN MAU’IZHAH.

Kedua kata ini sering digunakan dan dipandang seakan-akan merupakan dua lafaz yang bersinonim. Ditinjau dari segi bahasa, ayat-ayat dalam Al-Qur’an mempunyai arti yang berbeda, dan masing-masing mempunyai dampak pedagogis khusus. Pengertian dari masing-masing adalah:

  1. Pedidikan Dengan Ibrah

Al-ibra, kata pokok dari abara. Ar-Raghib mengatakan bahwa asal makna al-ibr berarti melampaui dari suatu keadaan yang lain, sedangkan al- ubur khusus digunakan dalam arti menyebrangi air. Ketika menafsirkan surat Yusuf ayat 111 ia mengatakan bahwa I’tibar dan ibrah ialah yang memungkinkan orang sampai dari pengetahuan yang konkrit kepada pengetahuan yang abstrak. Maksudnya adalah perenungan dan tafakur.

Ibrah dan I’tibar ialah suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia mengetahui intisari suatu perkara yang disaksikan, diperhatikan, ditimbang, diukur, dan diputuskan oleh manusia secara nalar, sehingga kesimpulannya dapat mempengaruhi hati untuk tunduk kepadanya, lalu hal itu mendorongnya untuk berpikir dn berperilaku yang sesuai.

Tujuan pedagogis ibrah ialah mengantarkan pendengar kepada kepuasan berpikir akan salah satu perkara aqidah dalam mendidik perasaan ketuhanan seperti menanamkan, mengokohkan, dan menumbuhkan tauhid dan ketundukan kepada Allah swt.

Penggunaan metode ibrah dalam Al-Qur’an berbeda-beda sesuai dengan perbedaan objek ibrah itu sendiri. Diantaranya adalah:

a). Pengambilan Ibrah dari Kisah.

Setiap kisah dalam Al-Qur’an mempunyai tujuan pendidikan tertentu. Pengambilan dari kisah hanya akan dapat dicapai oleh orang yang berpikir dengan sadar, yang akal dan fitrahnya tidak terkalahkan oleh hawa nafsu. Orang ini bahkan dapat mengambil intisari dengan benar dari kisah itu, seperti firman Allah swt. Dalam surtat Yusuf ayat 111:

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan segla sesuatu, dan sebagai petunjuk  dan rahmat bagi kaum yang beriman.”(QS 12:111).

Esensi pengambilan ibrah dari kisah ini adalah bahwa Allah berkuasa menyelamatkan Yusuf setelah dilemparkan  kedalam sumur yang gelap, meniggikannya setelah dijebloskan ke dalam penjara, menjadikanya raja Mesir setelah dijual seperti hamba yang dijual dengan harga yang murah, dan membuatnya perkasa atas saudara-saudaranya yang berbuat aniaya kepadanya.

Implikasi pendidikan ibrah ini ialah  mananamkan akhlak Islamiyah dan perasaan ketuhanan kepada anak. Oleh karena itu, ibrah akan diraih oleh orang yang mempunyai akal sehat. Pendidik hendaklah menggugah anak agar mau merenung dan membiasakan berpikir sehat, seperti mengajukan pertanyaan dengan tujuan seperti di atas. Pertanyaan itu diharapkan dapat membimbing perasaan mereka dalam menghayati isi pesan yang tersirat dalam kisah tersebut, dan pertanyaan itu hendaklah bersifat formatif yaitu membandingkan sikap pelaku kisah dengan sikap mereka dalam kehidupan sehari-hari.

b).Pengambilan ibrah dari makhluk ciptaan Allah dan nikmatnya yang telah diperuntungkan bagi manusia. Allah berfirman:

“Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang berada dalam perutnya berupa susu yang bersih dari kotoran dan darah yang mudah ditelan oleh orang-orang yang meminumnya. Dari buah korma dan anggur yang kamu buat minuman yang memabukkan dan rezki yang baik, sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kebesaran Allah bagi orang yang berpikir.(QS 16:66-67).

Oleh karna ibrah didasarkan atas pemikiran yang dalam dan pengamatan yang cermat, maka kita akan dapat menyingkap keajaiban yang diciptakan Allah dala segala nikmat yang dilimpahkan kepada hamba-Nya. Pada ayat di atas Allah menjelaskan kepada manusia bahwa susu yang putih bersih dari segala kotoran, padahal ia keluar dari perut yang juga mengandung kotoran dan darah. Ayat tersebut juga menerangkan bahwa  buah korma dan anggur yang menyerap makanannya dari air dan tanah, dengan kekuasaan Allah buah itu memberikan kepada manusia minuman yang dapat memabukkan dan juga rizki yang baik.

Dari ibrah ini pendidik yang dituntut untuk melatih anak agar dapat merenungkan keajaiban ciptaan Allah terutama yang ada di sekelilingnya. Anak harus mengamati kehidupan sehari-harinya. Sebagai bukti hikmah Allah dan ketelitian ciptaan-Nya, seperti lapisan udara yang meliputi bola bumi, sehingga dengannya tersedialah sarana kehidupan bagi manusia, hewan dan tumbuh-tunbuhan. Demikian pula  dengan angin dan awan yang ditundukkan antara langit dan bumi. Hendaklah pendidik berdiskusi dengan anak dan meminta tanggapan mereka sekitar perkara tersebut, dengan mengajukan pertanyaan yang relevan. Dengan pertanyaan itu anak akan terbimbing ke arah pengakuan keesaan, kekuasaan, dan kebijak sanaan Allah swt.

  1. b.   Pendidikan dengan Mau’izhah

Mau’izhah berasal dari wu’azha -ya’izhu yang berarti mengingatkan apa yang dapat melembutkan kalbu berupa pahala dan siksa sehingga ia mendapatkan nasehat. Allah berfirman:

 

‘…itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian kepada Allah dan Hari Kemudian…  “ (QS 2:232).

Al-wa’zhu adalah pemberian nasihat dan peringatan akan kebaikan da kebenaran dengan cara menyentuh kalbu dan menggugah untuk mengamalkannya. Dalam Al-Qur’an ayat-ayat yang mengandung al wa’uzhu mempunyai banyak bentuk dan arti, diantaranya adalah:

1). Nasihat

Secara bahasa nashaha mengandung pengertian yang kepada keterlepasan dari segala kotoran dan tipuan. Rajulun nashihul jaibi adalah laki-laki yang tidak menipu, atau an-nashih adalah madu murni. Kata an-nashhu terdapat dalam firman-Nya:

“Dan tidaklah bermanfaat bagi kalian nasihatku jika aku hendak memberi nasihat kepada kalian sekiranya Allah hendak menyesatkan kalian… “(QS 11:34).

Ayat ini menunjukkan persyaratan memberi nasihat adalah amanah (terpercaya) dalam arti menyampaikan kebenaran syariat dan berbagai peristiwa tentang berita gaib seperti yang tercantum dalam ayat-ayat Al-Qur’an tanpa penyimpangan dan perubahan.

2). Tazhkir (peringatan)

Hendaklah orang memberi nasihat berulang kali mengingatkan berbagai makna dan pesan yang membangkitkan perasaan dan motivasi untuk segera beramal saleh, menjalankan perintah-Nya dan menghentikan larangan-Nya, sehingga kesan yang diberi nasihat akan tumbuh secara kokoh dan isi nasihatnya diterima.

Dari peringatan mau’izhah atau an-nashhu mengandung tiga materi pokok, yaitu:

a.Tentang peringatan kebaikan atau kebenaran yang harus dilakukan seseorang.

b. Motivasi atau dorongan untuk beramal dan menunjukkan ke arah akhirat.

c.Tentang peringatan adanya kemudaratan yang harus dihindarkan, baik yang menimpa diriya maupun orang lain.

Implikasi metode mau’izhah ini dalam Al-Qur’an tergambar dalam surat Luqman ayat 13 ketika Luqmanul Hakim mendidik anaknya:

Ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya waktu ia memberikan nasihat kepadanya, “hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah  merupakan kezaliman yang besar.” (QS 31:16).

2. Nasihat akan adanya pengawasan Allah terhadap segala perbuatan manusia.

Semua perbuatan manusia itu tidak ada yang luput dari pengawasan Allah, baik yang dilakukan secara sembunyi maupun terang-terangan, baik di  tempat yang sepi maupun yang ramai bahkan di manapun ia berada. Allah akan memperlihatkan dan meminta pertanggungjawaban atas semua perbutan manusia, tanpa ada yang terlewakan sedikit pun.

“Hai anakku, sesungguhnya jika ada perbuatan seberat biji sawi dan berada dalam batu di langit dan di bumi, niscaya Allah akan membalasnya. Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui.” (QS 31:13).

  1. Nasihat untuk menegakkan shalat, melaksanakan amar makruf nahi mungkar, dan sabar terhadap segala musibah. “Hai anakku, dirikanlah shalat, suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya hal yang demikian termasuk hal yag diwajibkan Allah. (QS 31:17).
  2. Nasihat jangan menghina dan berlaku sombong.

 “Janganlah kamu memalingkan muka dari manusia, dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh…” (QS 31:18)

5.Nasihat untuk berkata lemah-lembut dan sederhana dalam berjalan.

 “Sederhanakanlah kamu dalam berjalan, dan lunakkanlah suaramu , sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (QS. 31: 19)

Demikianlah  beberapa nasehat Lukman kepada putranya dalam Al-Qur’an. Maksud Al-Qur’an menceritakan nasehat-nasehat ini  kepada kita tidak lain agar dijadikan I’tibar (perumpamaan) dan pelajaran buat kita khususnya dalam melaksanakan pendidikan dan pengajaran kepada anak.

2. Metode Suri Teladan.

Maksudnya adalah suatu metode pendidikan dan pengajaran dengan cara pendidik memberikan contoh teladan yang baik kepada anak agar ditiru dan dilaksanakan.

 Teladan dari pendidik merupakan faktor yang besar pengaruhnya  dalam pendidikan anak. Hal itu dapat membentuk seorang anak menjadi manusia yang saleh dan bergaul dengan orang-orang yang saleh, begitu pula sebaliknya.

Al-Qur’an menegaskan pentingnya contoh teladan dan pergaulan yang baik dalam usaha membentuk kepribadian anak, yaitu dengan mempelajari tindak-tanduk Rasulullah, dan menjadikannya contoh utama, Allah berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagmui, yaitu orang-orang yan mengharapkan rahmat Allah dan keselamat di hari kiamat, dan dia banyak menyebut nama Allah.” (QS 33:21).

Seorang ulama memberi pesan kepada pendidik dalam mengajar anak dengan perkataannya:

Hendaklah yang pertama-tama kamu lakukan dalam mendidik anak adalah perbaiki dulu dirimu sendiri, karena sesungguhnya mata anak-anak itu hanya tertuju padamu. Maka apa yang menurut mereka adalah yang kamu perbuat, dan yang jelek menurut mereka adalah apa yang kamu tinggalkan.

Dalam kehidupan keluarga yang menjadi suri teladan bagi anak adalah orangtuanya. Mereka menganggap orangtuanya sebagai tokoh yang perlu mereka tiru dalam kehidupannya. Sementara di sekolah yang menjadi teladan adalah para guru mereka, karena tepatlah anwar jadi menghimbau para pendidik untuk memberi contoh yang baik kepada anak dengan ungkapannya:

Anak-anak itu lebih banyak mengambil pelajaran melalui ikut-ikutan dan meniru perbuatan (gurunya), dibandingkan melalui nasihat dan petunjuk lisan.

Dalam praktik pendidikan dan pembelajaran, metode ini dilaksanakan dalam dua cara, yaitu cara langsung (direct) dan tidak langsung (indirect). Secara langsung maksudnya bahwa pendidik itu sendiri harus benar-benar menjadikan dirinya sebagai contoh teladan yang baik terhadap anak. Sedangkan secara tidak langsung dimaksudkan melalui cerita dan riwayat para nabi, kisah-kisah orang besar, pahlawan dan syuhada. Melalui kisah dan riwayat ini diharapkan anak akan menjadikan tokoh ini sebagai uswatun hasanah.

3. Metode Targhib Dan Tarhib

     Abdurrahman An-Nahlawi menjelaskan pengertian targhib sebagai berikut:

     Targhib adalah janji yang disertai dengan bujukan dan membuat senang terhadap suatu kebaikan, kenikmatan, atau kesenangan akhirat yang pasti dan baik, serta bersih dari segala kotoran, yang kemudian diteruskan dengan melakukan amal saleh dan menjauhi kenikmatan selintas yang mengandung bahaya atau perbuatan jelek. Hal ini semata-mata untuk mencapai keridhaan Allah. Dan hal ini merupakan rahmat Allah bagi hamba-hamba-Nya.

     Sedangkan tarhib adalah:

     Ancaman dengan siksaan sebagai akibat melakukan dosa dan kesalahan yang dilarang oleh Allah, dengan kata lain, tarhib adalah ancaman dari Allah yang dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa takut hamba-hambanya, dengan memperlihatkan kebesaran dan keagungan-Nya agar selalu berhati-hati dalam bertindak.

     Ini juga tersirat dalam firman-Nya:

     Dan tidak ada seorang pun dari kalian melainkan mendatangi neraka itu. Hal ini bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang ditetapkan. Kemudian kami akan menyelamatkan orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zalim dalam neraka dalam keadaan berlutut. (QS 19: 71-72).

Targhib dan tarhib sebagai suatu metode dalam pendidikan dimaksudkan agr anak dapat dapat melakukan kebaikan dan merasa takut berbuat kejahatan dan maksiat. Jika metode ini dibandingkan  dengan metode pengajaran barat, brng kali sebanding denga gajaran (reward) dan hukman (punishment). Sebgai metpde pendidikan Islam targhib dan tarhib mempunyai keistimewan sebagai berikut:

  1. Targhib dan tarhib senantiasa berdasarkan kepada petunjuk Al-Qur’an dan sunah untuk menumbuhkan keumanan yang kokoh dan aqidah yang kuat.

 

  1.  Targhib dan tarhib senantiasa dikaitkan langsung dengan janji dan ancaman Allah berupa surga dan neraka, sehingga bisa menumbuhkan perasaan rabbani yang menjadi salah satu sasaran dari pendidikan wijdaniyah. Seperti rasa takut hanya kepada Allah, khusuk, mahabban, dan perasaan penuh harap kepada Allah SWT.

4. Metode Sejarah.

     Metode pendidikan sejarah ialah pendidik mengajar anak untuk merenungkan dan memikirkan kejadian-kejadian yang ada melalui kisah-kisah dan peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Tahammul dan tafaqur melalui kisah-kisah itu dapat dicapai oleh setiap orang yang memiliki pikiran cerdas. Dengan kata lain, orang yang cerdas pikirannya cerdas tentu akan bisa mengambil hikmah atau pelajaran yang terkandung dibalik kisah-kisak itu.

          Al-Qur’an datang dengan membawa cerita-cerita kependidikan yang sangat berguna untuk pembinaan akhlak dan ruhani mausia. Ia diungkapkan dengan susunan kata dan bahasa yang indah. Lebih dari itu, ia mengandung arti yang sangat dalam. Allah berfirman:

          Kami menceritakan kepadamu kisah-kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-quran ini kepadamu. (QS 12:3).

          Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka terdapat pengajaran bagi orang-orang yang berakal. (QS 12:111).

          Diantara contah-contoh kisah dalam al-quran adalah kisah dua orang anak adam, yaitu Qabil dan Habil yang terdapat dalam surat al-maidah. Kisah tersebut menggambarkan sifat hasut dan dengki yang dipunyai Qabil terhadap saudaranya Habil. Di samping itu juga rasa kdih sayag atau toleransi yang diliki Habi. Kisah in diakhiri dengan gambaran betapa rendah dan hinanya orag ang memiliki sifat hasud sehingga ia  benar benar malu kepada burung gagak. Firman Allah:

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra adam menurut yang sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan korban, maka di terima salah seorang dari mereka qabil berkata, “aku pasti membunuhmu.”habil berkata, sesungguhnya allah hanya menerima korban dari orang-orang yang bertaqwa.” (QS 5:7).

  1. 4.    Metode Perumpamaan

Di antara sarana untuk memberi kesan dan pengaruh edukatif yang diajarkan al- Qu’ran adalah menggunakan perumpamaan atau misal yang mempunyai nilai-nilai moral. Hal ini akan memberi kesan pengaruh yang dalam didalam diri dan sangat berperan dalam tingkah lakunya. Allah SWT menjelaskan betapa bersar pengaruh perumpamaan dalam dunia pendidikan dengan firman-Nya:

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini kami buatkan untuk manusia, dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS 29:43).

Sebagai contoh perumpamaan dalam al-Qur’an yang mempunyai maksud dan tujuan serta nilai-nilai yang sangat dalam adalah perumpamaan orang musyrik dengan laba-laba.

Firman Allah SWT:

Perumpamaan orang-orang yang mengambil perlindungan selain Allah adalah laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui” (QS 24:41).

“Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada itap-tiap bulir: seratus biji. “(QS 2:261).

          Abdurahman saleh Abdullah mengatakan tujuan perumpamaan dalam al-Qur’an adalah:

  1. Untuk memperlihatkan ayat-ayat Allah dan meniadakan sesembahan kepada makhluk lain selain Allah yang pantas disembah
  2. 2.    Agar orang-orang mukmin melakukan perbuatan baik demantara orang-orang kafir senantiasa melakukan perbuatan mungkar. Hal ini tergambar dalam surat Ibrahim ayat 18.
  3. 3.     “Orang-orang yang kafir kepada tuhan-Nya, amalan-amalan mereka adalah seperti  abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambl manfaat sedikitpun dari apa yang mereka usahakan di dunia. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.”

(QS 14: 18).

  1. 5.    Metode Tanya Jawab

 

Metode ini dilakukan dengan cara pendidik mengajukan pertanyaan tentang suatu masalah dengan maksud untuk mengajarkan mereka.

          Pada umumnya orang yang bertanya itu mempunyai maksud untuk mengetahui apa yang ia tanyakan. Akan tetapi, yang dimaksud dengan metode tanya jawab ini adalah pertanyaan pendidik dengan maksud mengajar atau memberitahu kepada anak tentang suatu masalah yang ditanyakan tadi.

          Dalam al-Qur’an, metode pendidikan dengan tanya jawab ini dapat diperhatikan dalam surat Ash-Shaf ayat 10-11. Pada ayat 10 Allah bertanya tentang suatu masalah, dan kemudian pertanyaan tersebut dijawab pada ayat berikutnya. Firman Allah SWT:

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihat di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu mengetahui”.

QS 61 ; 10-11

          Ayat ini menggambarkan bahwa Allah SWT menggunakan pertanyaan dengan tujuan pengajaran karena:

  1. Allah mengajukan petanyaan kapada orang-orang yang beriman tentang sesuatu, yaitu perdagagan yang bisa menyelamatkan diri dari siksaan api neraka. Tapi kemudian pertanyaan itu dijawab sendiri oleh Allah pada ayat berikutnya.
  2. Jawaban Allah SWT hanya bersifat memberitahu, mengajarkan pada orang-orang yang beriman bahwa perdagangan yang menyelamatkan dari siksaan api neraka adalah iman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan berjuang untuk menegakkan agama Allah melalui pengorbanan baik yang bersifat materi maupun yang nonmateri.

Metode ini mempunyai makna yang luas  dalam penidikan dan pengajaran, karena metode ini mengandung makna antara lain:

  1. Memberikan rangsangan kepada anak untuk memikirkan apa yang ditanyakan, dan beriusaha untuk mencari jawanbannya, atau meningat kembali apa yang pernah dialaminya.
  2. Berfungsi sebagai pengecekan terhadap pengetahuan anak, sejauh manakah mereka menguasai pengetahuan sehubungan dengan pertnyaan itu.
  3. Sengaja memberitahu anak tentang hal-hal yang dianggap penting untuk diketahui.

Demikianlah metode pendidikan dalam Islam. Pendidik hendaklah memberikan metode yang terbaik umtuk memotivasi anak, dengan jalan memilih metode yang tepat agar tercapai Tujuan Pendidikan Islam.

 

====MA’A NAJAAH ====

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s